"Apa yang
menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) saqar..? Mereka menjawab, 'Dahulu kami
tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat"..(Q.S. Al
Mudatstsir/74: 42-43)
Sholat dalam agama
Islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadah lainnya. Ia
merupakan tiang agama, dimana ia tidak
dapat berdiri kokoh melainkan dengannya.
Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda; "Kepala setiap perkara ialah Islam, sedangkan
tiangnya ialah sholat dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah'.
Jadi kedudukan Sholat
dalam Islam adalah;
1. Ia adalah ibadah
pertama yang diwajibkan oleh Allah ta'ala yang perintahnya disampaikan Allah
secara langsung tanpa perantara, yaitu melalui dialog dengan Rasul-Nya pada
malam mi'raj,
2. Ia adalah wasiat
terakhir yang diamanahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada
ummatnya sewaktu hendak meninggal dunia,
3. Ia merupakan inti
pokok ajaran agama. Dengan kata lain, bila ia hilang maka hilang pulalah agama
secara keseluruhan sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam; "Sesungguhnya ikatan agama Islam, akan
terurai satu demi satu. Setiap kali ikatan Islam terurai, orang-orang pun
bergantung kepada ikatan berikutnya. Ikatan pertama adalah menegakkan hukum, sedangkan ikatan terakhir adalah sholat'.
(HR. ibnu Hibban dari Abu Umamah)
4. Shalat adalah
kewajiban paling utama setelah dua kalimat syahadat dan merupakan salah satu
rukun islam,
Rasulullah shallallahu
alaihi wa salam bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: bersaksi
bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah
utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke
Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”(H.R. Muslim)
5. Shalat merupakan
pembeda antara muslim dan kafir,
Rasulullah shallallahu
alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan
kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka
ia kafir” (H.R. Muslim)
Salah seorang tabi’in
bernama Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata, “Dulu para shahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang
apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.”(H.R. At-Tirmidzi)
6. Shalat adalah tiang
agama dan agama seseorang tidak tegak kecuali dengan menegakkan shalat,
Diriwayatkan dari
Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Inti (pokok)
segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.”(H.R.
At-Tirmidzi)
7. Amalan yang pertama
kali akan dihisab pada hari kiamat,
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan
dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan
mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan
menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka
wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah
pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut
akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya
seperti itu.” Dalam riwayat lainnya,
”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan
dihisab seperti itu pula.”(H.R. Abu Daud)
8. Shalat merupakan
Penjaga Darah dan Harta Seseorang,
Rasulullah shalallahu
alaihi wa salam bersabda, ”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai
mereka mau mengucapkan laa ilaaha illalloh (Tiada sesembahan yang haq kecuali
Allah), menegakkan shalat, dan membayar zakat. Apabila mereka telah melakukan
semua itu, berarti mereka telah memelihara harta dan jiwanya dariku kecuali ada
alasan yang hak menurut Islam (bagiku untuk memerangi mereka) dan kelak
perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala.”(H.R. Bukhari, Muslim)
KEUTAMAAN MENGERJAKAN
SHOLAT 5 WAKTU
Shalat memiliki
keutamaan-keutamaan berupa pahala, ampunan dan berbagai keuntungan yang Allah
sediakan bagi orang yang menegakkan sholat dan rukun-rukunnnya dan lebih utama
lagi apabila sunnah-sunnah sholat 5 waktu dikerjakan, diantara keutamaan-keutamaan
tersebut adalah:
1) Mendapatkan cinta
dan ridho Allah
Orang yang mengerjakan
shalat berarti menjalankan perintah Allah, maka ia pantas mendapatkan cinta dan
keridhoan Allah.
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Katakanlah (wahai muhammad): “Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni
dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
2) Selamat dari api
neraka dan masuk kedalam surga
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka
Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).
Syaikh Abu Bakr Jabir
Al Jazairi Rahimahullahu ta’ala berkata, “Yang dimaksud dengan kemenangan dalam
ayat ini adalah selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga”.
Dan melaksanakan sholat
termasuk mentaati Allah dan Rasul-Nya.
3) Pewaris surga
Firdaus dan kekal di dalamnya
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman … dan orang-orang
yang memelihara sholatnya mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni)
yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mu’minun:
9-11)
4) Pelaku shalat
disifati sebagai seorang muslim yang beriman dan bertaqwa,
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka.” (QS. Al Baqarah: 2-3)
5) Akan mendapat
ampunan dan pahala yang besar dari
Allah,
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki
dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang
sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
6) Shalat tempat
meminta pertolongan kepada Allah sekaligus ciri orang yang khusyuk,
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu’.” (QS. Al Baqarah: 45)
7) Shalat mencegah
hamba dari Perbuatan Keji dan Mungkar,
Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut: 45)
HUKUM MENINGGALKAN
SHOLAT
Di atas telah
dijelaskan bahwa shalat merupakan tiang agama dan merupakan pembeda antara
muslim dan kafir. Lalu bagaimanakah hukum meninggalkan shalat itu sendiri,
apakah membuat seseorang itu kafir...?
Perlu diketahui, para
ulama telah sepakat (ijma’) bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu lebih
besar dari dosa-dosa besar lainnya.
Ibnu Qayyim Al Jauziyah
–rahimahullah– mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat
lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih
besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan
minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan
kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
Beberapa kasus orang
yang meninggalkan shalat, dapat dirinci sebagai berikut;
Pertama: Meninggalkan
shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana perkataan, ‘Kalau mau shalat
boleh-boleh saja, tidak shalatpun juga tidak apa-apa. Jika hal ini dilakukan
dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi
kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.
Kedua: Meninggalkan
shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan
ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini
berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan
kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq,
mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.
Contoh hadits mengenai
masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perjanjian antara
kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka
dia telah kafir.”(H.R. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah)
Ketiga: Tidak rutin
dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak.
Maka dia masih dihukumi
muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah
pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap
orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh
bilkhotimah (Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya).
Keempat: Meninggalkan
shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka
hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini
tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai
sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.
Kelima: Mengerjakan
shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun
sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir,
namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman
(yang artinya), “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5)
Nasehat yang perlu
diperhatikan;
Amirul Mukminin, Umar
bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara
perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat,
berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk
amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi
orang yang meninggalkan shalat.“
Imam Ahmad
–rahimahullah– juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang
meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki
bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu.
Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul
memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah.
Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki
bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam
hatimu.“
Ibnul Qoyyim
mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya
sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau
iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya,
kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan
Allah (mereka meyakini hal ini
sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut
orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“
Semoga Allah subhanahu
wata'ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya serta memasukkan
kita kedalam hamba-Nya yang menegakkan sholat...
No comments:
Post a Comment