Bismillahirrahmanirrahim
Washsholaatu wassalaamu
'alaa rasulillah
"Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sesungguhnya ia telah
beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan." (Q.S. Ali imran :185)
"Dimana saja kamu
berada, kematian akan menjemput kamu, walaupun kamu berada didalam benteng yang
tinggi lagi kokoh." (Q.S. An Nisaa :78)
"....Apabila telah
datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun
dan tidak pula mendahulukan(nya)." (Q.S.
Yunus :49)
Keadaan seseorang pada
saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang
akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam
hadits :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ
رواه البخاري وغَيْرُهُ.
“Sesungguhnya
amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari dan selainnya]
Oleh sebab itulah,
seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal
shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan
kekuatan untuk tetap istiqamah sampai kematian menjemputnya. Mereka berusaha
merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla :
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa,
dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri)”. [Ali
Imran : 102]
Imam Muslim
rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya, dari ‘Abdullah bin
‘Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma , dia mengatakan :
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ
يَقُوْلُ: إِِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا بَيْنَ أَصْبَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ
: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
“Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah
laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang
membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu”.
Itulah pentingnya
kondisi tutup usia. Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir
kehidupannya ini, tergantung amal perbuatannya. Barangsiapa yang berbuat baik
di saat waktu dan usianya memungkinan, maka insya Allah akhir hidupnya baik.
Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah
tidak akan pernah menzhalimi hamba-Nya, meskipun sedikit.
HUSNUL KHATIMAH
Husnul khatimah adalah
akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq
untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan
perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.
Dalil yang menunjukan
makna ini, yaitu hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ
خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ
صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.
“Apabila
Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya”. Para
sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah
menjawab,”Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia
meninggal.” [HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak.
Husnul khatimah
memiliki beberapa tanda, di antaranya ada yang diketahui oleh hamba yang sedang
sakaratul maut, dan ada pula yang diketahui orang lain.
Tanda husnul khatimah,
yang hanya diketahui hamba yang mengalaminya, yaitu diterimanya kabar gembira
saat sakaratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerahNya.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu”. [Q.S. Fusshilat : 30].
Kabar gembira ini
diberikan saat sakaratul maut, dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ
أَحَبَّ لِقَائَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَائَهُ، فَقُلْتُ:
يَانَبِيَ الله! أَكَرَهِيَةُ المَوْتِ، فَكُلُّنَا: نَكْرَهُ المَوْتَ؟ فَقَالَ: لَيْسَ
كَذَلِكَ، وَلَكِنِ المُؤْمِنُ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضِوَانِهِ وَجَنَّتِهِ
أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، وَإِنَّ كَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسُخْطِهِ
كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ وَكَرِهَ اللهُ لِقَائَهُ.
“Barangsiapa
yang suka bertemu Allah, maka Allahpun suka untuk bertemu dengannya. Dan
barangsiapa tidak suka bertemu Allah, maka Allah pun benci untuk bertemu
dengannya”. ‘Aisyah bertanya,”Wahai Nabi Allah! Apakah (yang dimaksud) adalah
benci kematian? Kita semua benci kematian?” Rasulullah menjawab,”Bukan seperti
itu. Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat
dan ridha Allah serta SurgaNya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan
sesungguhnya, orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan
kemurkaanNya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allahpun membenci
bertemu dengannya”.
Mengenai makna hadits
ini, al Imam al Khatthabi mengatakan : “Maksud dari kecintaan hamba untuk
bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya,
ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya.
Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya”.
Imam Nawawi
berkata,”Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah,
saat sakaratul maut, saat taubat tidak diterima (lagi). Ketika itu, semuanya
diperlihatkan bagi yang sedang naza’ (proses pengambilan nyawa), dan akan
nampak baginya tempat kembalinya.”
TANDA-TANDA HUSNUL
KHATIMAH
Tanda-tanda husnul khatimah
banyak yang telah disimpulkan oleh para ulama dengan penelitian terhadap
nash-nash yang terkait, di antaranya :
1. Mengucapkan kalimat
syahadat saat akan meninggal.
Dalilnya adalah hadits
riwayat al Hakim dan selainnya, bahwasannya Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda :
مَنْ كَانَ آخِرُ كـلاَمـِهِ
: لاَ إِ لَهَ إِ لاَ اللهُ دَخـَلَ الجـَــنَّةَ.
“Barangsiapa
yang akhir ucapannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , maka ia masuk surga”.
2. Meninggal dengan
kening berkeringat.
Berdasarkan hadits
riwayat Buraidah bin al Hashib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ
الجَبِيْنِ. رَواه أحـمد والترمذي
“Kematian
seorang mukmin dengan keringat di kening”.
3. Meninggal pada malam
Jum`at atau siangnya.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ
إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah
seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah
akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur”. [HR Ahmad dan Tirmidzi]
4. Mati syahid di medan
jihad di jalan Allah, atau mati saat menempuh perjalanan untuk peperangan di
jalan Allah, mati karena tertimpa sakit tha’un (pes), atau mati karena
tenggelam. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ
فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ
فَهُوَ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ
“Siapakah
orang yang syahid menurut kalian?” Para sahabat menjawab,”Orang yang terbunuh
di jalan Allah, maka ia syahid”. Rasulullah bersabda,”Kalau begitu, orang yang
mati syahid dari umatku sedikit,” mereka bertanya,”Kalau begitu, siapa wahai
Rasulullah?” Beliau n menjawab,”Orang yang terbunuh di jalan Allah, ia syahid.
Orang yang mati di jalan Allah, maka ia syahid. Orang yang mati karena sakit
tha’un, maka ia syahid. Barangsiapa yang mati karena sakit perut, maka ia
syahid. Dan orang yang (mati) tenggelam adalah syahid”.
5. Mati karena tertimpa
reruntuhan.
Berdasarkan hadits
riwayat Bukhari dan Muslim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
الشُّـهَدَاءُ خَمْسَةٌ:
المَـطْعُوْنُ، المَـبْطُوْنُ، والغَـرْقُ وَصَاحِبُ الهَـدْمِ والشَّهِـيْدُ فِي سَبِيْلِ
اللهِ.
“Orang
yang mati syahid ada lima, (yaitu) : orang yang (mati) terkena penyakit tha’un,
sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang terkena reruntuhan dan orang yang
syahid di jalan Allah”.
6. Tanda husnul
khatimah, yang khusus bagi wanita, ialah meninggal saat nifas, ataupun
meninggal saat sedang hamil.
Sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya, dengan sanad yang shahih dari
‘Ubadah bin ash Shamit Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati syahid, di antaranya :
وَالمَـرْأَةُ يَقْتُلُهَا
وَلَدُهَا جَمْعَاءُ شَهَادَةٍ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرِرِهِ إِلَى الجَـنَّةِ.
“Dan
wanita yang dibunuh anaknya (karena melahirkan) masuk golongan syahid, dan anak
itu akan menariknya dengan tali pusarnya ke Surga.”
7. Meninggal karena
terbakar dan radang selaput dada.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan macam-macam orang yang mati syahid,
termasuk orang yang mati terbakar. Demikian pula orang yang meninggal lantaran
menderita radang selaput dada, yaitu bengkak yang meradang, nampak pada selaput
yang ada di bagian dalam tulang-tulang rusuk.Adapun haditsnya diriwayatkan oleh
Abu Daud dalam sunannya.
8. Diantara dalil yang
menjelaskan jenis kematian syahid yang lain adalah hadits yang diriwayatkan Abu
Dawud dan an Nasaa-i dan selain keduanya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ
فَهُوَ شَهِـيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِِهِ فَهُوَ شَهِـيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ
دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِـيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِه فَهُوَ شَهِـيْدٌ.
Barangsiapa yang
terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena
membela keluarganya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela
agamanya, maka ia syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh karena membela
darahnya, maka ia syahid.
9. Meninggal karena
sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan) di jalan Allah Ta`ala.
Berdasar hadits riwayat
muslim dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي
كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
“Berjaga-jaga
sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat
malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang
telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rizki baginya, dan ia
terjaga dari fitnah”.
10. Meninggal dalam
keadaan melakukan amal shalih.
Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ
يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ
بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
رواه أحـمـد وغـيْره.
“Barangsiapa
mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah (pahala) Allah kemudian
amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surg. Barangsiapa berpuasa karena
mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga.
Barangsiapa bershadaqah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk
surga. (HR Imam Ahmad dan selainnya)”.
Demikian beberapa tanda
husnul khatimah yang telah disimpulkan dari berbagai nash.
Akan tetapi, ketahuilah
bahwa terlihatnya salah satu di antara tanda-tanda itu pada satu mayit
diharapkan itu sebagai pertanda baik baginya. Jika seandainya tanda-tanda itu
tidak ada pada satu mayit, maka janganlah divonis bahwa seseorang ini tidak
baik. Semua ini merupakan masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa
Jalla.
PENYEBAB HUSNUL
KHATIMAH
1. Secara kontinyu
melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Allah. Intinya ialah merealisasikan
tauhid, menjauhi hal-hal yang diharamkan, dan segera bertaubat dari perbuatan
haram yang melumurinya. Tindakan yang paling diharamkan adalah syirik, baik
syirik besar maupun syirik kecil. Allah k berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ
أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ
فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya
Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi
siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar”. [an Nisaa`: 48].
2. Hendaknya berdoa
kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan
bertakwa.
3. Hendaknya
mengerahkan segala kemampuan dalam memperbaiki diri, secara lahir dan batinnya,
niat dan maksudnya diarahkan untuk memperbaiki diri. Ketentuan Allah di alam
ini telah berlaku. Allah memberikan taufik kepada orang yang mencari kebenaran.
Allah akan mengokohkannya di atas al haq serta menutup amalnya dengan al haq
itu.
SU`UL KHATIMAH
Su’ul khatimah (akhir
yang buruk) adalah, meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa Jalla,
berada di atas murkaNya serta meninggalkan kewajiban dari Allah.
Tidak diragukan lagi,
demikian ini akhir kehidupan yang menyedihkan, selalu dikhawatirkan oleh
orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.
Terkadang nampak pada
sebagian orang yang sedang sakaratul maut, tanda-tanda yang mengisyaratkan
su’ul khatimah, seperti : menolak mengucapkan syahadat, justru mengucapkan
kata-kata jelek dan haram, serta menampakkan kecendrungan padanya, dan lain
sebagainya.
Kami perlu menyebutkan
sebagian contoh nyata kejadian tersebut.
Kisah yang dibawakan
oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, al Jawaabul Kaafi, bahwa ada
seseorang saat sakaratul maut, dia diingatkan, “Ucapkanlah : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“ Lalu orang itu menjawab: “Apa gunanya bagiku. Aku pun tidak pernah
mengerjakan shalat karena Allah, meskipun sekali,” akhirnya ia pun tidak
mengucapkannya.
Al Hafizh Rajab
rahimahullah dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, menukil dari salah satu
ulama, ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rawwad, beliau berkata: “Aku menyaksikan seseorang,
yang ketika hendak meninggal ditalqin (diajari) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Akan
tetapi, ia mengingkarinya pada akhir ucapannya.
Kemudian Syaikh ‘Abdul
‘Aziz bertanya kepadanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang pecandu khamr
(minuman keras). Selanjutnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Takutlah kalian
terhadap perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan dosa itu yang telah
menjerumuskannya”.
Hal serupa juga diceritakan
oleh al Hafizh adz Dzahabi rahimahullah, ada seorang yang bergaul dengan
pecandu khamr, maka saat ajal akan tiba, dan ada seseorang yang datang untuk
mengajarinya syahadat, ia malah mengatakan : “Minumlah dan beri aku minum,”
kemudian ia meninggal.
Al ‘Alamah Ibnul Qayyim
rahimahullah bercerita mengenai seseorang yang diketahui gemar musik dan
mendendangkannya. Tatkala wafat menjemputnya, dia diingatkan, katakanlah :لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ , (tetapi) dia justru mulai mengigau dengan lagu sampai kemudian
mati tanpa mengucapkan kalimat tauhid.
Beliau rahimahullah
juga berkata: “Sebagian pedagang mengabarkan kepadaku tentang karib-kerabatnya
yang hampir meninggal, sementara mereka di sisinya. Mereka mentalkinkan لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ , namun ia mengigau “ini murah, ini barang bagus, ini begini dan
begitu,” sampai ia meninggal dan tanpa bisa melafazhkan kalimat tauhid”.
Berikut ini, kami
bawakan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Komentar ini dibawakan setelah
menyebutkan kisah-kisah di atas. Beliau rahimahullah berkata:
“Subhanallah,
betapa banyak orang yang menyaksikan ini mendapatkan pelajaran? Apabila seorang
hamba, pada saat sadar, kuat, serta memiliki kemampuan, dia bisa dikuasai
setan, ditunggangi perbuatan maksiat yang diinginkannya, mampu membuat hatinya
lalai dari mengingat Allah Azza wa Jalla, menahan lisannya dari dzikir, dan
(begitu pula) anggota badannya dari mentaatiNya, lalu bagaimana kiranya ketika
kekuatannya melemah, hati dan jiwanya kacau karena sakitnya naza’ (tercabutnya
nyawa) yang sedang dia alami? Sementara saat itu, setan mengerahkan seluruh
kekuatan dan konsentrasinya, dan menghimpun semua kemampuannya untuk mencuri
kesempatan. Sesungguhnya ini adalah klimaks. Saat itu, hadir setan yang
terkuat, sementara si hamba dalam kondisi paling lemah. Siapakah yang selamat?
Pada saat kondisi ini:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ
آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ
اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang
zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”. [Ibrahim/14 : 27].
Maka, orang yang
dilalaikan hatinya dari mengingat Allah, (selalu) memperturutkan nafsunya dan
melampaui batas, bagaimana mungkin diberi petunjuk agar husnul khatimah? Orang
yang hatinya jauh dari Allah Azza wa Jalla, lalai dariNya, mengagungkan
nafsunya, menyerahkan kepada syahwatnya, lisannya kering dari dzikir, serta
anggota badannya terhalang dari ketaatan dan sibuk dengan maksiat, maka
mustahil diberi petunjuk agar akhir kehidupannya baik (husnul khatimah).
SU`UL KHATIMAH
MEMPUNYAI DUA TINGKATAN
1. Tingkatan terbesar
dan terjelek.
Yaitu orang yang
hatinya penuh dengan keraguan dan penentangan saat sakaratul maut, kemudian ia
mati dalam keadaan seperti ini, Maka, hal ini akan menjadi penghalang antara
dia dan Allah.
2. Tingkatan yang lebih
rendah.
Yaitu orang yang
hatinya cenderung kepada urusan dunia atau keinginan syahwatnya, lalu keinginan
ini tergambar di dalam hatinya saat sakaratul maut. Biasanya, seseorang
meninggal dalam kondisi yang biasa ia lakoni pada kehidupan nyatanya. Jika
jelek, maka akhirnya juga jelek. Semoga Allah melindungi kita dari keduanya.
SEBAB-SEBAB SU`UL
KHATIMAH
Dari uraian ini, maka
nampak jelas, bahwa penyebab su’ul khatimah adalah, lawan dari penyebab husnul
khatimah yang telah disebutkan.
Penyebab utamanya
adalah kerusakan aqidah. Di antara penyebabnya juga adalah, rakus terhadap
dunia, mencarinya dengan cara-cara haram, berpaling dari jalan kebaikan, serta
terus-menerus melakukan perbuatan maksiat.
Semoga Allah melindungi
kita dari su’ul khatimah. Seseorang yang amalan lahirnya baik, serta batinnya
juga senantiasa bersama Allah, jujur dalam perkataan dan perbuatan, maka dia
tidak akan mengalami su’ul khatimah. Sebaliknya, su’ul khatimah akan dialami
oleh orang yang aqidahnya rusak, amalan lahirnya pun rusak, berani melakukan
dosa-dosa besar, bahkan mungkin dia malakukan itu sampai ajal menjemput tanpa
sempat bertaubat.
Karena itu, selayaknya
bagi orang yang berakal agar mewaspadai ketergantungan hatinya terhadap
perbuatan-perbuatan haram, dan mengharuskan hati, lisan serta anggota badannya
untuk mengingat Allah Azza wa Jalla dan tetap taat kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala di manapun berada.
"Dari Abdullah bin
Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
memegang pundakku seraya bersabda; Jadilah kamu didunia seakan-akan seperti
orang asing atau orang yang menyeberang jalan. Jika kamu berada diwaktu sore
maka janganlah kamu menunggu waktu pagi, jika kamu berada di waktu pagi
janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkan waktu sehatmu untuk waktu sakitmu dan
waktu hidupmu untuk kematianmu. " (H.R. Al Bukhari)
Ya Allah, jadikanlah
amal terbaik kami sebagai penutup amal kami. Jadikanlah umur terbaik kami
sebagai akhirnya. Dan jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari kami
menjumpaiMu.
Ya Allah, berilah taufik
kepada kami untuk melaksanakan berbagai kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran
No comments:
Post a Comment