Bismillahirrahmanirrahim
Washsholaatu wassalaamu
'alaa rasulillah
Imam Al-Ghazali rahimahullah
didalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin berkata;
"Manusia itu
adakalanya sebagai orang yang terbuai atau sebagai orang yang taubat, dan
adakalanya sebagai pemula atau sebagai orang yang mengerti.
Adapun orang yang
terbuai, maka ia tidak akan mengingat
mati, dan jika ia mengingatnya karena keduka citaan terhadap duniawinya dan ia
menyibukkan diri dengan mencaci makinya.
Adapun orang yang
taubat, maka sesungguhnya ia memperbanyak untuk mengingat mati, agar dapat
bangkit dihatinya suatu rasa khawatir lalu ia akan selalu berusaha
menyempurnakan taubatnya.
Dan terkadang pentaubat
tidak menyukai kematian karena khawatir akan di renggut nyawanya sebelum
sempurna taubatnya dan sebelum baik bekalnya."
Ketahuilah bahwa
kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan
diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal
sebagai sakaratul maut.
Ibnu Abi Ad-Dunya
rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang
yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting,
panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan
menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni
dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”.
Di antara dalil yang
menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad
dengan ruhnya, firman Allah:
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ
بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan
datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari
darinya”. [Qaaf: 19]
Maksud sakaratul maut
adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan
manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah
perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang
berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba
sakaratul maut dengan kematian.
Juga ayat:
كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ
{26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ
بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
“Sekali-kali
jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan
dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis
(kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]
Syaikh Sa’di menjelaskan:
“Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut
nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi
ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia)
mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan.
Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan
menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya,
mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga
mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang
dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah
waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),
maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya,
penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia
huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi
amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan
dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya
dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang
yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan
kekufuran dan penentangan”.
Sedangkan beberapa
hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari
meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal
menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ
فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ
فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ
الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ
“Bahwa
di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau
memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa
Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau
menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa
beliau tercabut dan tangannya melemas”(H.R. Bukhari)
Dari Anas Radhiyallahu
anhu, berkata:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا
ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ
فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ
َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ
“Tatkala
kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu
ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari
ini."(H.R. Bukhari)
Dalam riwayat Tirmidzi
dengan, ‘Aisyah menceritakan:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا
أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك الجنائز باب ما جاء في
التشديد عند الموت وصححه الألباني
“Aku
tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat
kepedihan kematian pada Rasulullah”.(H.R. At Tirmidzi)
Dan penderitaan yang
terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya,
keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185).
Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat
kepedihan setiap orang berbeda-beda.
KABAR GEMBIRA UNTUK
ORANG-ORANG YANG BERIMAN.
Orang yang beriman,
ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang
beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan.
Dalilnya, hadits Al Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:
إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ
إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ
مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ
كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا
مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى
يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى
مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ
مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ
عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ
وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ
“Seorang
hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka
malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka
mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth
(wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang.
Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata:
“Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan
Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut
kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya.
Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya
(malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan
hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di
bumi..”(H.R. Ahmad dan Abu Daud)
Malaikat memberi kabar
gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara
tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri
orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta
membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا
رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا
وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ
أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي
أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah,
maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu
bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat
di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di
dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat: 30]
Ibnu Katsir mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan
mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan
menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata
“janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan
jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak,
istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu.
Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan
turunnya kebaikan”.
Kemudian Ibnu Katsir
menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat
kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya
dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus
sekali dan memang demikian kenyataannya”.
Firman-Nya: “Kamilah
pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata
kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah
kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga
kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat,
dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami
akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan
membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju
kenikmatan syurga”.
Dalam ayat lain, Allah
mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا
كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Yaitu)
orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan
mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”,
masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An
Nahl: 32]
.
Syaikh Asy Syinqithi
mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang
melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan
para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin
(baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang
paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi
mereka mereka dengan salam…
MENGAPA RASULULLAH
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT?
Kondisi umum proses
pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita
sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus
dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami
Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya
sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas.
Ibnu Hajar mengatakan:
“Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas
kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk
menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”(Fathul Bari syarh
shohih Bukhari)
Menurut Imam Al
Qurthubi rahimahullah, dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para
nabi, maka mengandung manfaat :
Pertama : Supaya
orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak
kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak
ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia
berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang
terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang
dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan
kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan
kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan
kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.
Kedua : Mungkin akan
terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para
nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal
Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling
berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka
dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits
ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk
melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan
sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup
hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi
(kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan
memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah
mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang
bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk
kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.
KABAR BURUK DARI PARA
MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR.
Sedangkan orang kafir,
maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi
menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan
sabdanya:
“Sesungguhnya
hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah
dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari
langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk
sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas
kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan
Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud
(penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah. (H.R. Ahmad dan
Abu Daud)
Secara ekspilisit, Al
Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada
orang kafir dengan siksa.
Allah berfirman: ”
وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ
فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ
ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ
غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
“Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada)
dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan
tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas
dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap
Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri
terhadap ayat-ayatnya”. [Al An’am: 93]
Maksudnya, para
malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai
nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan:
“Keluarkan nyawamu”. Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat
akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai,
neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya
bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar.
Para malaikat
memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat
mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan,
karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan
(karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”.. artinya pada
hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena
mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti
ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya.
Saat detik-detik
kematian datang, orang kafir mintai dikembalikan agar bisa masuk Islam.
Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan
beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan.
Allah berfirman:
حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ
الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat
amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya
itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan”. [Al Mu'minun: 99-100]
Setiap orang yang lalai
di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan
dilanda penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja,
untuk menjadi insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah
hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini
dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama
Allah.
Washallallahu ‘alaa Muhamaadin
wa ‘alaa aalihi washahbihi ajma'iin.
No comments:
Post a Comment