Umur manusia adalah perkara ghaib dan merupakan rahasia Allah SWT. Tak
seorangpun tahu berapa panjang usia yang dijatahkan untuknya.
Meski Umur termasuk perkara ghaib, beberapa ulama besar mencoba
membahasnya. Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, misalnya, mengkaji masalah umur
melalui karyanya, Sabilul'Iddikar wal I'tibar bima Yamurru bil-Insan wa
Yanqadhi lahu minal-A'mar (Jalan Menuju Peringatan dan Perenungan tentang
Tahapan Usia yang Dilalui Manusia).
Ia membagi umur dalam lima tahapan;
Pertama, sejak Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan membekalinya
dengan keturunan.
Ketiga, dimulai sejak kebangkitan manusia dari alam dunia melalui
kematian sampai ditiupnya sangkakala Malaikat Israfil di Padang Mahsyar. Umur
ketiga adalah masa penantian seseorang di alam barzakh.
Keempat, berlangsung sejak seorang manusia dibangkitkan dari alam
barzakh, bersamaan dengan ditiupnya sangkakala yang kedua hingga manusia
melangkah di atas shirath al-mustaqim.
Kelima, dimulai sejak seseorang memasuki pintu surga, atau terjatuh di
jurang neraka.
Usia umat Rasulullah SAW tidaklah sepanjang usia umat-umat terdahulu.
Dalam sebuah hadist disebutkan, usia mereka umumnya antara 60 sampai 70 tahun.
Rasulullah SAW pernah mengadukan pendeknya usia umat beliau itu kepada
Allah SWT. Dengan penuh kasih, Allah SWT menjelaskan, meski usia umat Islam
lebih pendek dari umat lain, Allah SWT telah menganugrahkan banyak keutamaan.
Diantaranya Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.
Masa muda dan masa dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan
manusia. Mengenai pentingnya masa muda, seorang bijak mengatakan, "Jika
engkau tak bisa meraih kemuliaan di hari mudamu, tak akan mulia hidupnya sampai
tua".
Yang sangat penting untuk diingat, setiap orang akan diminta
pertanggungjawaban tentang umur yang dianugrahkan kepadanya.
Rasulullah SAW bersabda, "Tak akan bergeser kedua kaki manusia
pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang
umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa;
tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang
ilmunya, apakah sudah diamalkan". (HR At-Tarmidzi).
USIA 40 TAHUN
Dalam Islam, usia 40 tahun dianggap sebagai usia yang istimewa. Ia
dipandang sebagai tonggak awal kemapanan seseorang. Rasulullah SAW pun diangkat
sebagai Nabi oleh Allah SWT pada usia 40 tahun. Bagi kaum sufi, usia 40 tahun
dianggap sebagai pintu gerbang menuju Allah SWT. Seorang sufi besar, Syaikh
Abdul Wahhab bin Ahmad Asy-Sya'rani, dalam kitab Bahrul Maurud, menulis,
"Telah diambil perjanjian dari kita, apabila umur telah mencapai 40 tahun,
hendaklah bersiap-siap melipat kasur dan selalu ingat pada setiap tarik nafas,
bahwa kita sedang berjalan menuju akhirat, sampai tak merasa tenang lagi
rasanya hidup di dunia". Yang dimaksud dengan "melipat kasur"
ialah mengurangi tidur untuk memperbanyak ibadah.
Setelah melampaui fase kedewasaan, kaum muslimin memasuki fase
persiapan menghadapi kematian, yakni pada usia 60 sampai 70 tahun. Sabda
Rasulullah SAW, "Masa penuaan umur umatku dari 60 hingga 70 tahun".
(HR Muslim dan An-Nasa-i).
Oleh karena itu, amat sangat keterlaluan orang-orang yang sudah
berusia diatas 60 tahun tapi masih juga melakukan maksiat.
Sabda Rasulullah SAW, "Allah SWT tidak akan menerima dalih
seseorang sesudah Dia memanjangkan usianya hingga 60 tahun". (HR
Al-Bukhari).
Usia lanjut juga merupakan sebuah keistimewaan. Dalam sebuah hadits
qudsi Rasulullah SAW menyampaikan firman Allah SWT, "Demi kemuliaan-Ku,
keagungan-Ku, dan kebutuhan hamba-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu
menyiksa hamba-Ku, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah beruban karena
tua dalam keadaan muslim". Dalam hadits lain beliau bersabda,
"Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik
pula amalannya". (HR At-Tarmidzi).
Namun Al-Quran juga berulang kali memperingatkan akan datanya ketuaan
dan kepikunan. Misalnya dalam surah An-Nahl ayat 70, "Allah menciptakan
kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan diantara kamu ada yang dikembalikan kepada
umur yang paling lemah, supaya tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah
diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa".
Kepikunan yang mengiringi ketuaan itulah yang ditakuti oleh Rasulullah
SAW, sehingga beliau selalu berdo'a, "Aku berlindung kepada-Mu dari usia
yang paling hina".
Suatu kali Ma'an bin Zaidah mendatangi Al-Makmun. Makmun bertanya,
"Bagaimana keadaanmu di usia tua renta ini?". Ia menjawab, "Aku
bisa jatuh hanya karena tersandung kotoran unta, dan cukup diikat hanya dengan
sehelai rambut".
"Bagaimana keadaanmu dalam makanan, minuman dan tidurmu?"
Ia menjawab,"Bila lapar, aku marah; dan bila makan, aku merasa
jengkel. Bila berada di antara orang-orang, aku mengantuk; dan bila di atas
kasurku, aku terjaga".
"Bagaimana keadaanmu dengan para wanita?"
Ia menjawab, "Kalau wanita yang buruk rupa, aku tidak
menginginkan mereka; sedangkan para wanita yang cantik tidak
menginginkanku".
Makmun berkata, "Kalau begitu tidak pantas orang sepertimu
dianggap muda".
"Lipat gandakanlah imbalan untuknya dan haruskanlah ia menetap di
rumahnya. Biarkan masyarakat yang mengunjunginya, dan jangan biarkan ia
mengunjungi siapapun".
Sejak zaman Rasulullah SAW sampai kini, ada orang-orang yang
dianuggrahi Allah SWT umur panjang dari orang-orang pada umumnya. Dan mereka
mengisinya dengan berbagai kebaikan, sehingga hidup mereka penuh berkah dan
tercatat dalam sejarah. Mereka inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi,
"Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya".
Disamping itu ada pula orang-orang yang usianya pendek tapi juga
sangat berarti, karena dipenuhi berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Mereka
yang tergolong dalam kelompok ini pun namanya terabadikan dalam sejarah, dan
senantiasa dikenang orang.
No comments:
Post a Comment