Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini kita berada dipengujung tahun. Allah SWT masih memberikan
kita umur panjang sampai saat ini. Bukan hanya umur yang panjang, Allah juga
telah memberikan nikmat sehat serta nikmat istiqamah di dalam hati kita.
Sehingga dengan nikmat-nikmat tersebut, ringan kita melaksanakan panggilan
ibadah kepada Nya. Untuk itu kita bersyukur kepada Allah. Bersyukur dengan
ucapan, mari kita memperbanyak mengucapkan hamdalah (Alhamdulillahi Robbil
‘Alamin). Bersyukur dengan perbuatan, mari kita senantiasa istiqamah
melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala laranganNya.
Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad SAW.
Mudah-mudahan dengan memperbanyak shalawat, dalam kehidupan kita diberikan
istiqamah, dan di akhir hayat kita ditutup dengan husnul khatimah, dan ketika
menghadap Allah SWT kita mendapatkan syafaatnya, insya Allah, Amin-Amin ya
Rabbal Alamin.
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah kapan dan dimanapun
kita berada, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Ketika ajal
menjelang, ketika nafas sudah di tenggorokan, maka tidak akan berguna lagi
harta dan kedudukan, tidak berguna lagi taubat dan penyesalan.
Alhamdulillah, hari ini kita sedang berada dihari terakhir bulan
Zulhijjah yang menandakan berakhirnya tahun 1437 H dan akan segera hadir tahun
1438 H. Mari kita renungkan, apa arti, apa pelajaran yang dapat kita ambil dari
kesempatan hidup yang Allah berikan pada kita, sehingga kita dapat menghirup
udara segar awal Muharram 1438 Hijriah ini..???
Pelajaran terbesar yang kita dapatkan ialah, bahwa Allah masih
memberikan kesempatan kepada kita melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi
diri) secara total. Berupa keimanan kita, keislaman kita, ibadah kita, akhlak
kita, pergaulan kita, ilmu kita, kewajiban kita, tanggung jawab kita, manajemen
waktu kita, life style (gaya hidup) kita, dan semua hal yang terkait dengan
kehidupan kita selama setahun sebelumnya, yakni tahun 1437 Hijriyah.
Sesungguhnya muhasabatun nafsi adalah kunci utama dalam kehidupan
kita. Dengan Muhasabatun nafsi, kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan
kita pada waktu yang lalu, perbaikan hari ini dan persiapan serta perencanaan
waktu yang akan datang.
Dengan muhasabatun nafsi, kita mampu menutupi kelemahan masa lalu dan
meningkatkan kualitas diri pada hari ini dan masa yang akan datang.
Dengan muhasabatun nafsi, hidup kita akan berkembang terus menuju ke
arah yang benar dan lurus.
Bahkan dengan muhasabatun nafsi, kita dapat mengetahui hakikat dan
persoalan diri kita secara pasti, amal yang kita lakukan dan bertambahnya
kapasitas diri serta bekal menuju perjalanan akhirat kita yang amat panjang dan
pasti.
Muhasabatun nafsi adalah kekayaan yang harus kita miliki, karena
sangat penting dalam menjalankan kehidupan ini. Karena itulah, Khalifah Umar
ra. Berkata:
حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
(Hisablah, hitung-hitung diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah
SWT.)
وَزِنُوْاهَا قَبْلَ أَنْ تُزَانُوْا
(Timbang-timbang amal kamu sebelum amal kamu ditimbang oleh Allah
SWT.)
Mari kita bersiap menghadapi suatu hari di mana semua manusia akan
dikumpulkan di padang Mahsyar kelak. Di sana Allah akan meminta
pertanggungjawaban terhadap semua yang kita imani, yang kita yakini, yang kita
ucapkan dan yang kita lalukan secara detil dan rinci, tak sedikit pun yang
terlupakan. Jika baik, Allah akan berikan dengan balasan yang baik, dan jika
nilainya buruk, maka Allah juga akan memberikan balasan yang buruk.
Ada tiga perkara yang perlu kita hisab, kita hitung-hitung dalam
kehidupan ini:
Pertama, Masalah Dien, Agama kita, yakni Al-Islam.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini pantas kita arahkan pada diri kita: Sudah
sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama kita? Sejauh mana kita
memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul SAW, sebagai sumber utama
ajaran agama kita?
Terkait masalah Dien ini, kita harus selalu menanamkan dalam diri kita
spirit dan semangat belajar, belajar dan belajar. Karena Dienul Islam itu adalah
ilmu, sedangkan ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar dan
mempelajarinya. Para ulama kita telah merumuskan ilmu Islam itu dengan rumusan
yang sangat ilmiah, detil dan sangat sistematis sehingga kita mudah memahami
dan mengamalkannya. Secara umum, ilmu terkait dengan Islam yang harus kita
pelajari dan amalkan mencakup Iman/’Aqidah, Ibadah, Akhlak, Mu’amalah,
Keluarga dan Syari’ah.
Kedua, Masalah dunia kita.
Dalam masalah kehidupan dunia, ada 3 hal yang perlu kita hisab:
1. Bagaimana kita menyikapi kehidupan dunia ini? Apakah kita
mencintainya dan kita jadikan ia menjadi tujuan hidup kita? Ataukah berbagai
fasilitas kehidupan ini, termasuk uang, rumah, kendaraan yang kita miliki, kita
letakkan hanya sebagai sarana kehidupan dan kita tidak mencintainya melebihi
cinta pada Allah dan Rasul-Nya? Ingat! Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa
zuhud pada dunia adalah kunci mendapat cinta Allah.
2. Dari mana asal usul semua harta yang kita miliki? Apakah harta yang
kita miliki benar-benar berasal dari sumber yang halal dan tidak sedikitpun
tercampur dengan yang haram seperti riba, menipu, mencuri dan sebagainya, atau
syubhat (belum jelas halal atau haram). Harta yang haram dan syubhat
menyebabkan hati kita sakit dan bahkan bisa mati serta do’a kita tidak
dikabulkan Allah. Pada akhirnya, di dunia kita kehilangan barokah hidup dan di
akhirat kita akan dilemparkan Allah ke dalam neraka. Sebab itu, Allah dan
Rasul-Nya menyuruh kita agar memakan, meminum dan memakai dari sumber yang
halal dan dari benda dan jenis yang dihalalkan.
3. Kemana kita belanjakan dan manfaatkan harta yang Allah anugerahkan
pada kita? Kendati harta yang kita dapatkan dengan cara yang halal dan jenisnya
pun halal, bukan berarti kita dibolehkan semau kita dalam membelanjakan dan
memanfaatkannya.
Islam mengatur sistem belanja, distribusi dan pemanfaatan harta kita.
Harta tersebut pada hakikatnya Allah titipkan kepada kita agar menjadi modal
kita untuk kepentingan akhirat kita. Sebab itu, Allah memotivasi kita agar
harta yang Allah anugerahkan itu kita infakkan/belanjakan di jalan-Nya setelah
kita keluarkan kewajiban yang ada di dalamnya seperti zakat, nafkah, infaq,
shadaqah, wasiat dan sebagainya.
Ketiga, Masalah akhirat yang akan menjadi tempat tinggal kita
selama-lamanya.
Terkait masalah akhirat ini hanya ada dua kata: Ikhlaskan niat kita
hanya karena Allah dalam semua kata dan amal ibadah yang kita lakukan, dan
lakukan amal shaleh sebanyak mungkin yang dapat kita lakukan. Untuk itu, hidup
kita harus berorientasi akhirat dan jangan sampai kita lebih mencintai dunia
ketimbang akhirat, karena dunia semua isinya akan musnah, termasuk jasad kita
sendiri, sedangkan akhirat adalah kekal abadi. Di samping itu, jadikanlah
sukses akhirat sebagai standar kesuksesan yang hakiki. Allah SWT menjelaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ
زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
(آل عمران : 185)
“Semua yang bernyawa pasti mati. Nanti pada
hari kiamat (akhirat) akan disempurnakan pahala kalian. Siapa yang dijauhkan
(pada hari itu) dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh dialah
yang sukses. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini melainkan kenikmatan yang
menipu”. (Ali-Imran: 185)
Mari kita syukuri nikmat umur yang telah Allah
anugerahkan kepada kita sehingga kita dapat menghirup udara segar di bulan
Muharram 1438 Hijiriyah tahun ini dengan melakukan Muhasabatun nafsi. Semoga
Allah bantu kita, dan mudahkan kita dalam melakukan upaya meningkatkan kualitas
dien, dunia dan akhirat kita dalam tahun 1438 Hijiriah ini, dan semoga hidup
kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin ya Robbal ‘alamin.
No comments:
Post a Comment