Bismillahirrahmanirrahim
Washsholaatu wassalaamu 'alaa Rasulullah wa 'alaa aalihi washahbihi
wamauwalah
Semoga kita senatiasa dalam naungan Rahmat, ampunan, bimbingan, dan perlindungan Allah
subhanahu wata'ala. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru 1438 Hijriyah.
Dimana bulan pertama dalam kelender hijriyah adalah bulan Muharram. Allah
Ta’ala telah menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia dan
menjadikannya sebagai salah satu dari empat bulan haram (yang disucikan).
Bulan Muharram, Bulan yang Dimuliakan
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya jumlah bulan di
sisi Allah adalah 12 bulan (yang telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak
menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang
suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi
diri kalian pada bulan-bulan (suci) tersebut.” (QS. At Taubah : 36)
Diantara keempat bulan haram (suci) tersebut adalah bulan Dzulqa’dah,
Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sebagaimana yang disebutkan oleh sabda
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam (yang artinya), “Satu tahun ada 12
bulan, diantaranya ada 4 bulan suci: 3 bulan secara berurutan yaitu Dzulqa’dah,
Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab diantara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari)
Mengapa keempat bulan tersebut dinamakan bulan haram? Abu Ya’la
rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada
bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan sebagaimana yang diyakini oleh
orang-orang jahiliyyah dahulu. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk
melakukan perbuatan maksiat lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya
dikarenakan mulianya bulan tersebut.” (Zaadul Maysir, Ibnul Jauziy)
Beberapa Amalan yang Dilakukan di Bulan Muharram :
1. Perbanyak Amalan Shalih dan Jauhi Maksiat
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata tentang tafsir firman Allah
Ta’ala dalam Surat At Taubah ayat 36: “…maka janganlah kalian menzhalimi diri
kalian…”; Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan
tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan
kemuliaannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar
(dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan
amalan-amalan shalih.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan
lainnya, hendaknya kita perbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada
bulan Muharram ini dengan membaca Al Qur’an, berdzikir, shadaqah, puasa,
sholat, shalawat, istighfar, do'a dan lainnya.
Selain memperbanyak amalan ketaatan, tak lupa untuk berusaha menjauhi
maksiat kepada Allah dikarenakan dosa pada bulan-bulan haram lebih besar
dibanding dengan dosa-dosa selain bulan haram.
Qotadah rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya kezaliman pada
bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang
dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap
kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan sebagian
dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”
2. Perbanyaklah Puasa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan
adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama
setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Para salaf pun sampai-sampai sangat suka untuk melakukan amalan dengan
berpuasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Pada
bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Lathaa-if Al
Ma’arif, Ibnu Rajab)
3. Puasa ‘Asyuro (Tanggal 10 Muharram)
Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ‘Asyuro merupakan hari yang
sangat dijaga keutamannya oleh Rasulullah, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas
hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari ‘Asyuro) dan bulan yang ini
(yaitu bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk menjaga keutamaan hari ‘Asyuro adalah dengan
berpuasa pada hari tersebut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau
mengatakan, Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah,
sementara orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyuro, mereka mengatakan, “Ini adalah
hari di mana Musa dimenangkan oleh Allah melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak
terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah” (HR.
Bukhari)
Rasulullah menyebutkan pahala bagi orang yang melaksanakan puasa
sunnah ‘Asyuro, sebagaiamana riwayat dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu
‘anhu, beliau mengatakan, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang
puasa Asyuro, kemudian beliau menjawab, “Puasa Asyuro menjadi penebus dosa
setahun yang telah lewat” (HR. Muslim)
4. Selisihi Orang Yahudi dengan Puasa Tasu’a (Tanggal 9 Muharram)
Setahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau
bertekad untuk tidak berpuasa hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram) saja, tetapi
beliau menambahkan puasa pada hari sebelumnya yaitu puasa Tasu’a (tanggal 9
Muharram) dalam rangka menyelisihi puasanya orang Yahudi.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Ketika
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyuro dan menganjurkan para
sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini
adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka beliau
bersabda, “Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa juga pada
hari kesembilan (Tasu’a, untuk menyelisihi Ahli kitab)”. Ibnu ‘Abbas berkata,
“Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
wafat.”
5. Muhasabah dan Introspeksi Diri
Hari berganti dengan hari dan bulan pun silih berganti dengan bulan.
Tidak terasa pergantian tahun sudah kita jumpai lagi, rasa-rasanya sangat cepat
waktu telah berlalu. Semakin bertambahnya waktu, maka semakin bertambah pula
usia kita. Perlu kita sadari, bertambahnya usia akan mendekatkan kita dengan
kematian dan alam akhirat.
Sebuah pertanyaan besar, “Semakin bertambah usia kita, apakah amal
kita bertambah atau malah dosakah yang bertambah?!” Maka pertanyaan ini
hendaknya kita jadikan alat untuk muhasabah dan introspeksi diri kita
masing-masing. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Tiada yang
pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masa hidupku
berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”
Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menuju perjalanan yang panjang
di akhirat kelak dengan amalan-amalan shalih? Sudahkah kita siap untuk
mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah kita perbuat di hadapan Allah
kelak? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Yaitu,
hendaklah kalian menghitung-hitung diri kalian sebelum kalian di-hisab (pada
hari kiamat), dan perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan berupa amal
kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Rabb kalian.”
Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk
tetap teguh berada di atas jalan kebenaran-Nya, bersegera untuk melakukan
instrospeksi diri sebelum datang hari di-hisab-nya semua amalan, dan menjauhkan
dari perbuatan maksiat yang bisa membuat noda hitam di hati kita. Amin ya
Rabbal 'alamin..
No comments:
Post a Comment