Segenap Jajaran Pengurus YASNAM Pontianak mengucapkan Marhaban Yaa Ramadhan 1440 H

Wednesday, October 19, 2016

Mensikapi Masalah Dzikir Berjamaah

Masalah dzikir berjamaah  sampai saat ini masih menjadi polemik dikalangan ulama dan umat Islam secara umum. Ada yang menganggap itu sebagai perbuatan bid’ah dan pelakunya termasuk orang yang sesat dan berada dalam neraka jahannam. Ada yang mengatakan itu sebagai amalan sunah yang dianjurkan dan pelakunya mendapat naungan dan rahmat dari Allah. Manakah yang benar? Masing masing kelompok mengemukakan dalilnya. Bagaimana sikap kita menghadapi polemik ini?

ALASAN YANG MENOLAK ZIKIR BERJAMA'AH.

Kelompok yang mengatakan dzikir berjamaah itu sebagai perbuatan bid’ah beralasan bahwa dizaman Rasulullah tidak ada dicontohkan cara dzikir seperti itu. Mereka mengacu pada hadist yang diriwayatkan Ad Darimi.


Telah mengkabarkan kepada kami Al-Hakam bin mubarrak,telah mendengar: aku:” menceritakan kepada kami Umar bin Yahya ia berkata “ayahku mengisahkan dari ayahnya ia berkata : ” kami duduk didepan pintu rumah Ibni Mas`ud sebelum shalat shubuh,apabila beliau keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid,(ketika kami sedang menanti beliau ) datanglah Abu Musa al asyar`i seraya bertanya “apakah Abu Abdurrahman telah keluar ? belum kami jawab, maka beliaupun duduk bersama kami menunggu sampai Ibnu Mas`ud keluar ketika beliau keluar kami semua berdiri, lalu Abu Musa bertanya Hai Abu Abdurrahman! sungguh tadi dimasjid aku melihat suatu perkara yang aku ingkari, namun secara sekilas nampaknya hal itu baik apa itu ? tanya Ibnu mas`ud, ia Abu Musa menjawab “sekiranya engkau dikarunia umur panjang engkau akan melihatnya dimasjid, aku melihat sekelompok orang duduk-duduk membentuk beberapa halaqah, mereka sedang menunggu shalat setiap kelompok tersebut dipimpin oleh seorang sedang tangan mereka memegang batu kerikil, pimpinan jamaah tersebut berkata kepada jamaahnya : bertakbirlah seratus kali ! maka mereka bertakbir seratus kali, lalu ia berkata lagi : bertahlilah seratus kali! maka merekapun bertahlil seratus kali, maka ia berkata lagi : ”bertasbilah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali. Ibnu Masud bertanya kepada Abu Musa :”lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ? aku tidak berkomentar apa-apa menunggu pendapat dan perintah darimu ,”jawab Abu Musa “ tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa dan engkau jamin bahwa perbuatan baik mereka tak akan sirna sedikitpun ? ” kata Ibnu Masud.maka berangkatlah beliau Ibnu masud dan kamipun mengikutinya hingga beliau sampai kepada salah satu halaqah tersebut, lalu beliau memberhentikan mereka seraya berkata “Hitunglah dosa-dosa kalian maka aku menjamin bahwa amalan baik kalian tidak akan sia-sia, celakalah kalian wahai umat Muhammmad ,alangkah cepatnya kalian menuju kebinasaan, padahal para sahabat Nabi kalian masih banyak, dan bejana-bejana mereka belum pecah.Demi jiwaku yang berada ditanganya ! kalian berada diatas addin yang lebih baik dari addin Nabi Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan ? mereka menjawab : ”Demi Allah hai Abu Abdurrahman ! kami tidak menghendaki kecuali kebaikan : maka beliau mengatakan “berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi ia tidak mendapatkan (karena ia mengamalkan suatu amalan yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya ). (HR Ad Darimi dalam sunanya,kitab al muqadimah ,hadist:204 ).

Mahmud Salma berkata : Bukan termasuk perbuatan sunnah apabila seseorang duduk setelah shalat untuk membaca dzikir -dzikir ataupun doa-doa yang matsur ( yang bersumber dari hadist shahih ) maupun yang tidak matsur dengan suara yang keras, apalagi kalau bacaan semacam ini dikerjakan secara kolektif (bersama sama ), seperti yang terlah terjadi dibeberapa daerah, namun sayangnya tradisi yang berlaku ini malah dianggap tidak benar jika tidak dikerjakan, bahkan orang yang melanggarnya malah dianggap sebagai orang yang melanggar syiar adin, padahal tradisi semacam ini harusnya ditinggalkan, karena tidak diajarkan oleh Rasullah Sallahu alaihiwasallam.

Muhammad Abdussalam Asy Syakiri berkata : ”Membaca istighfar secara bersama-sama oleh para jama’ah setelah salam sholat merupakan perbuatan bid’ah, dan sunnahnya istighfar dilakukan sendiri-sendiri, begitu juga dengan lafadz“yaa arhama rohimin” , yang dibaca secara bersama sama juga termasuk bid'ah . (sunan walmubtadiat :60 )

Asy Syatibi berkata; Rasulullah Sallahu alaihiwasallam tidak pernah mengeraskan suaranya untuk membaca do’a maupun dzikir setelah selesai sholat kecuali untuk tujuan mengajari para sahabatnya sebab jika mengeraskan bacaannya atau suaranya terus menerus pasti akan dianggap sebagai sunnah dan ulama’ pasti akan akan menganngap sunnah nabi dan selayaknya dicontoh”. (Al I`tisham 1/351 )

Imam Nawawi mengatakan :“…hendaklah imam dan ma’mum tidak mengeraskan suaranya kecuali bila tujuannya untuk mengajari orang lain .” (Fathul bari”11/326 )

Ibnu Hajar berkata :”Disebut dalam kitab “Al Atabiyah”sebuah riwayat dari Malik bahwa perbuatan tersebut (dzikir secara bersama- sama) dianggap bid’ah.” (Fathul Bari :11/326 ).

Asy Syatibi mengatakan :”Telah disimpulkan bahwa selalu membaca do’a secara bersama-sama bukan termasuk perbuatan Rasulullah Sallahu alaihiwasallam dan juga bukan termasuk perkataan dan taqrirnya”. (Al I`tisham :1/352 )

Komite Tetap Kajian dan Fatwa Arab Saudi berpendapat bahwa zikir berjamaah hukumnya haram dan termasuk bidah. Pendapat itu dikeluarkan oleh lembaga yang dipimpin oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dengan anggota Syekh Bakar Abu Zaid, Abdul Aziz Alussyekh, Shalih al-Fauzan, dan Abdullah bin Ghadyan.

Pandangan ini juga merupakan opsi yang dipilih oleh Asosiasi Ulama Senior Arab Saudi. Menurut mereka, aktivitas semacam itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Seperti hadis Bukhari Muslim yang diriwayatkan dari Aisyah, “Maka segala apa yang tidak pernah diteladankan oleh Rasul, hukumnya tertolak”. Artinya, tidak boleh dilakukan.

Zikir yang dicontohkan oleh Rasul ialah zikir individual dengan bersuara usai shalat lima waktu. Ini seperti hadis riwayat Bukhari Muslim dari Ibn Abbas.

Sekalipun pada dasarnya bacaan-bacaan yang dikeluarkan saat berzikir berjamaah pernah diteladankan Rasul tetapi cara penyampaiannya tidak dibenarkan. Ini dianggap bid'ah. Sebab, zikir yang disunahkan bersifat individual, bukan berjamaah.

ALASAN YANG MENDUKUNG DZIKIR BERJAMA'AH

Kelompok yang mengatakan dzikir berjamaah itu sebagai suatu amalan yang dianjurkan mengacu pada hadist yang disampaikan Abu Hurairah  dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

1. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ للهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فيْهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ، حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ : فَسْأَلُهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ : مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُولُونَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيُهَلِّلُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ، وَيَسْأَلُونَكَ، قَالَ : وَمَاذَا يَسْأَلُونِيْ ؟ قَالُوا : يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ، قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِيْ ؟ قَالُوا : لَا أَيْ رَبَّ، قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِيْ ؟ قَالُوا : وَيَسْتَجِيرُو نَكَ، قَالَ : وَمِمَّا يَسْتَجِيرُونَنِيْ، قَالُوا : مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ، قَالَ : هَلْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : لَا، قَالَ : فَكَيفَ لَوْ رَأَوْا نَارِيْ ؟ ……

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’aalaa mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis yang di situ disebut nama Allah, maka mereka duduk bersama orang-orang tersebut, mereka mengelilingi jama’ah itu dengan sayap-sayap mereka, sehingga memenuhi ruang antara mereka dan langit dunia. Jika orang-orang tersebut telah selesai, maka mereka naik ke langit”. Nabi berkata : “Kemudian Allah ‘azza wa jalla bertanya kepada para malaikat tersebut dan Allah lebih tahu tentang apa yang mereka lakukan  : “Dari mana kamu sekalian ?”. Mereka menjawab : “Kami datang dari hamba-hamba-Mu di bumi, mereka sedang mensucikan-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu”. Allah bertanya : “Apa yang mereka minta ?”. Para malaikat menjawab : “Mereka memohon surga-Mu”. Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku ?”. Para malaikat menjawab : “Tidak wahai Rabbku”. Kata Allah : “Betapa seandainya mereka pernah melihat surga-Ku”. Para malaikat berkata : “Mereka juga berlindung kepada-Mu”. Allah bertanya : “Dari apa mereka berlindung kepada-Ku?”. Para malaikat menjawab : “Dari neraka-Mu wahai Rabbku”. Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?”. Para malaikat menjawab : “Tidak”. Kata Allah : “Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku…” [HR. Al-Bukhari no. 6408 dan Muslim no. 2689].

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam : Allah ’azza wa jalla berfirman : “Aku terserah pada sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di tengah orang banyak, maka Aku juga mengingatnya di tengah orang banyak yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepada-Nya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari” [HR. Al-Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675].

3. Hadits Mu’awiyyah radliyallaahu ‘anhu :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Mu’awiyyah radliyallaahu ‘anhu pernah melewati suatu halaqah di masjid. Lalu ia bertanya : “Majelis apakah ini ?”. Mereka menjawab : “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala”. Mu’awiyyah bertanya lagi : “Demi Allah, benarkah kalian duduk hanya untuk itu ?”. Mereka menjawab : “Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu”. Kata Mu’awiyyah selanjutnya : “Sungguh aku tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian, sebab tidak ada orang yang menerima hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih sedikit daripada aku. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati satu halaqah para shahabatnya, lalu beliau bertanya : “Majelis apakah ini ?”. Mereka menjawab : “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah. Kami memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan atas anugerah-Nya kepada kami”. Beliau bertanya lagi :“Demi Allah, apakah kalian duduk untuk itu ?”. Mereka menjawab : “Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu”. Beliau pun kemudian bersabda : “Sungguh, aku tidaklah menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian, tetapi karena aku didatangi Jibril ‘alaihis-salaam yang memberitahukan bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di depan para malaikat” [HR. Muslim no. 2701].

Mereka yang melaksanakan dzikir secara berjamaah mengacu pada ketiga hadist diatas. Karena masing masing mempunyai dalil hadist yang berbeda sudut pandangnya, sebaiknya kita tidak perlu saling menyalahkan dan menganggap yang lainnya sebagai amalan bid’ah .

Di tengah masyarakat pada umum kondisi ini cenderung  menjadi pokok pangkal perpecahan dan saling memojokan. Sebaiknya umat Islam bisa menghargai perbedaan pendapat yang terjadi, karena dari dalil hadistnyapun sudah terjadi perbedaan. Disamping dalil hadist sebaiknya kita juga mengacu pada dalil Al Qur’an.

PENJELSAN AL QUR'AN TENTANG DZIKIR

Al Qur’an menjelaskan bahwa berdzikir itu bisa dilakukan seorang diri, secara berjamaah, didalam hati, dijaharkan denga  lisan , kapan saja ketika berdiri, duduk dan berbaring.

DZIKIR SEORANG DIRI DENGAN SIIR (RAHASIA)

Dzikir ini dilaksanakan dengan mengacu pada firman Allah pada surat Al A’Raaf ayat 205:

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai".

DZIKIR DENGAN BERJAMA'AH

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi semua berdzikir dan bertasbih pada Allah namun kita manusia tidak mengerti cara tasbih dan dzikirnya.

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". (Al Isra': 44)

"Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud" (Al A’raaf : 206)

Para malaikat, bintang, planet , gunung, awan, angin, lautan, pohon-pohon, binatang yang melata di bumi,  burung-burung semua berdzikir dan bertasbih pada Allah bersama-sama.

Allah juga memerintahkan orang yang beriman untuk berdzikir dan bertasbih padanya secara beramai ramai seperti disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 41-43 ;

41. Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
42. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Ini adalah perintah kolektif yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, bukan perintah untuk individu dan perorangan. Allah juga mengajarkan kita doa-doa yang diucapkan secara kolektif (berjamaah) seperti pada surat Ali Imran ayat 191-194, dimana awal doa dimulai dengan wahai Tuhan Kami (jamak) …bukan dengan wahai Tuhanku (tunggal).

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
192. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
193. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.
194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali Imran 191-194)

DZIKIR DENGAN LISAN

Allah memerintahkan orang yang beriman untuk menyebut-nyebut nama Allah dengan sebanyak- banyaknya dengan suara yang lembut, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan.

Firman Allah : Katakanlah : “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al Isro' : 110)

ORANG YANG TIDAK BERDZIKI ADALAH ORANG YANG LALAI

Al Qur’an menjelaskan bahwa dzikir itu boleh dilakukan seorang diri, beramai ramai (berjamaah), dengan lisan atau rahasia didalam hati masing-masing, dimana saja ketika duduk , berdiri dan berbaring , diwaktu pagi, petang atau malam hari. Lakukanlah sebisa yang dapat dilakukan. Jangan saling menyalahkan dan menuduh yang lainnya sesat dan melakukan  bid’ah. Yang tidak benar adalah orang yang tidak mau mengerjakan dzikir mengingat Allah, mereka itulah orang yang lalai.
Allah mengingatkan hal ini dalam surat  Al Hasyr ayat 19

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al Hasyr 19)

Dan didalam akhir surat Al A’raaf ayat 205 dikatakan janganlah kalian termasuk orang yang lalai (dari mengingat Allah)


Mari kita hidupkan hati dan fikiran kita dengan berdzikir mengingat Allah, baik seorang diri maupun beramai-ramai, dengan jahar atau siir. Jangan sibuk menyalahkan orang lain hingga tidak sempat berdzikir pada Allah hingga masuk kedalam golongan orang yang lalai dan fasik.

No comments:

Post a Comment