Masalah dzikir
berjamaah sampai saat ini masih menjadi
polemik dikalangan ulama dan umat Islam secara umum. Ada yang menganggap itu
sebagai perbuatan bid’ah dan pelakunya termasuk orang yang sesat dan berada
dalam neraka jahannam. Ada yang mengatakan itu sebagai amalan sunah yang
dianjurkan dan pelakunya mendapat naungan dan rahmat dari Allah. Manakah yang
benar? Masing masing kelompok mengemukakan dalilnya. Bagaimana sikap kita
menghadapi polemik ini?
ALASAN YANG MENOLAK
ZIKIR BERJAMA'AH.
Kelompok yang
mengatakan dzikir berjamaah itu sebagai perbuatan bid’ah beralasan bahwa
dizaman Rasulullah tidak ada dicontohkan cara dzikir seperti itu. Mereka
mengacu pada hadist yang diriwayatkan Ad Darimi.
Telah mengkabarkan
kepada kami Al-Hakam bin mubarrak,telah mendengar: aku:” menceritakan kepada
kami Umar bin Yahya ia berkata “ayahku mengisahkan dari ayahnya ia berkata : ”
kami duduk didepan pintu rumah Ibni Mas`ud sebelum shalat shubuh,apabila beliau
keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid,(ketika kami sedang menanti
beliau ) datanglah Abu Musa al asyar`i seraya bertanya “apakah Abu Abdurrahman
telah keluar ? belum kami jawab, maka beliaupun duduk bersama kami menunggu
sampai Ibnu Mas`ud keluar ketika beliau keluar kami semua berdiri, lalu Abu
Musa bertanya Hai Abu Abdurrahman! sungguh tadi dimasjid aku melihat suatu
perkara yang aku ingkari, namun secara sekilas nampaknya hal itu baik apa itu ?
tanya Ibnu mas`ud, ia Abu Musa menjawab “sekiranya engkau dikarunia umur
panjang engkau akan melihatnya dimasjid, aku melihat sekelompok orang
duduk-duduk membentuk beberapa halaqah, mereka sedang menunggu shalat setiap
kelompok tersebut dipimpin oleh seorang sedang tangan mereka memegang batu
kerikil, pimpinan jamaah tersebut berkata kepada jamaahnya : bertakbirlah
seratus kali ! maka mereka bertakbir seratus kali, lalu ia berkata lagi :
bertahlilah seratus kali! maka merekapun bertahlil seratus kali, maka ia
berkata lagi : ”bertasbilah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali.
Ibnu Masud bertanya kepada Abu Musa :”lalu apa yang engkau katakan kepada
mereka ? aku tidak berkomentar apa-apa menunggu pendapat dan perintah darimu
,”jawab Abu Musa “ tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung
dosa-dosa dan engkau jamin bahwa perbuatan baik mereka tak akan sirna
sedikitpun ? ” kata Ibnu Masud.maka berangkatlah beliau Ibnu masud dan kamipun
mengikutinya hingga beliau sampai kepada salah satu halaqah tersebut, lalu beliau
memberhentikan mereka seraya berkata “Hitunglah dosa-dosa kalian maka aku
menjamin bahwa amalan baik kalian tidak akan sia-sia, celakalah kalian wahai
umat Muhammmad ,alangkah cepatnya kalian menuju kebinasaan, padahal para
sahabat Nabi kalian masih banyak, dan bejana-bejana mereka belum pecah.Demi
jiwaku yang berada ditanganya ! kalian berada diatas addin yang lebih baik dari
addin Nabi Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan ? mereka menjawab :
”Demi Allah hai Abu Abdurrahman ! kami tidak menghendaki kecuali kebaikan :
maka beliau mengatakan “berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi ia
tidak mendapatkan (karena ia mengamalkan suatu amalan yang tidak dituntunkan
oleh Allah dan Rasul-Nya ). (HR Ad Darimi dalam sunanya,kitab al muqadimah ,hadist:204
).
Mahmud Salma berkata :
Bukan termasuk perbuatan sunnah apabila seseorang duduk setelah shalat untuk
membaca dzikir -dzikir ataupun doa-doa yang matsur ( yang bersumber dari hadist
shahih ) maupun yang tidak matsur dengan suara yang keras, apalagi kalau bacaan
semacam ini dikerjakan secara kolektif (bersama sama ), seperti yang terlah
terjadi dibeberapa daerah, namun sayangnya tradisi yang berlaku ini malah
dianggap tidak benar jika tidak dikerjakan, bahkan orang yang melanggarnya
malah dianggap sebagai orang yang melanggar syiar adin, padahal tradisi semacam
ini harusnya ditinggalkan, karena tidak diajarkan oleh Rasullah Sallahu
alaihiwasallam.
Muhammad Abdussalam Asy
Syakiri berkata : ”Membaca istighfar secara bersama-sama oleh para jama’ah
setelah salam sholat merupakan perbuatan bid’ah, dan sunnahnya istighfar
dilakukan sendiri-sendiri, begitu juga dengan lafadz“yaa arhama rohimin” , yang
dibaca secara bersama sama juga termasuk bid'ah . (sunan walmubtadiat :60 )
Asy Syatibi berkata;
Rasulullah Sallahu alaihiwasallam tidak pernah mengeraskan suaranya untuk
membaca do’a maupun dzikir setelah selesai sholat kecuali untuk tujuan
mengajari para sahabatnya sebab jika mengeraskan bacaannya atau suaranya terus
menerus pasti akan dianggap sebagai sunnah dan ulama’ pasti akan akan
menganngap sunnah nabi dan selayaknya dicontoh”. (Al I`tisham 1/351 )
Imam Nawawi mengatakan
:“…hendaklah imam dan ma’mum tidak mengeraskan suaranya kecuali bila tujuannya
untuk mengajari orang lain .” (Fathul bari”11/326 )
Ibnu Hajar berkata
:”Disebut dalam kitab “Al Atabiyah”sebuah riwayat dari Malik bahwa perbuatan
tersebut (dzikir secara bersama- sama) dianggap bid’ah.” (Fathul Bari :11/326
).
Asy Syatibi mengatakan
:”Telah disimpulkan bahwa selalu membaca do’a secara bersama-sama bukan
termasuk perbuatan Rasulullah Sallahu alaihiwasallam dan juga bukan termasuk
perkataan dan taqrirnya”. (Al I`tisham :1/352 )
Komite Tetap Kajian dan
Fatwa Arab Saudi berpendapat bahwa zikir berjamaah hukumnya haram dan termasuk
bidah. Pendapat itu dikeluarkan oleh lembaga yang dipimpin oleh Syekh Abdul
Aziz bin Abdullah bin Baz dengan anggota Syekh Bakar Abu Zaid, Abdul Aziz
Alussyekh, Shalih al-Fauzan, dan Abdullah bin Ghadyan.
Pandangan ini juga
merupakan opsi yang dipilih oleh Asosiasi Ulama Senior Arab Saudi. Menurut
mereka, aktivitas semacam itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Seperti
hadis Bukhari Muslim yang diriwayatkan dari Aisyah, “Maka segala apa yang tidak
pernah diteladankan oleh Rasul, hukumnya tertolak”. Artinya, tidak boleh
dilakukan.
Zikir yang dicontohkan
oleh Rasul ialah zikir individual dengan bersuara usai shalat lima waktu. Ini
seperti hadis riwayat Bukhari Muslim dari Ibn Abbas.
Sekalipun pada dasarnya
bacaan-bacaan yang dikeluarkan saat berzikir berjamaah pernah diteladankan
Rasul tetapi cara penyampaiannya tidak dibenarkan. Ini dianggap bid'ah. Sebab,
zikir yang disunahkan bersifat individual, bukan berjamaah.
ALASAN YANG MENDUKUNG
DZIKIR BERJAMA'AH
Kelompok yang
mengatakan dzikir berjamaah itu sebagai suatu amalan yang dianjurkan mengacu
pada hadist yang disampaikan Abu Hurairah
dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
1. Hadits Abu Hurairah
radliyallaahu ‘anhu :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ للهِ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا
وَجَدُوا مَجْلِسًا فيْهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ،
حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا
عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ : فَسْأَلُهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِهِمْ : مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُولُونَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَادٍ
لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيُهَلِّلُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ،
وَيَسْأَلُونَكَ، قَالَ : وَمَاذَا يَسْأَلُونِيْ ؟ قَالُوا : يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ،
قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِيْ ؟ قَالُوا : لَا أَيْ رَبَّ، قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ
رَأَوْا جَنَّتِيْ ؟ قَالُوا : وَيَسْتَجِيرُو نَكَ، قَالَ : وَمِمَّا يَسْتَجِيرُونَنِيْ،
قَالُوا : مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ، قَالَ : هَلْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : لَا، قَالَ
: فَكَيفَ لَوْ رَأَوْا نَارِيْ ؟ ……
Dari Abu Hurairah
radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya
beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’aalaa mempunyai beberapa
malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah
menemukan majelis yang di situ disebut nama Allah, maka mereka duduk bersama
orang-orang tersebut, mereka mengelilingi jama’ah itu dengan sayap-sayap
mereka, sehingga memenuhi ruang antara mereka dan langit dunia. Jika
orang-orang tersebut telah selesai, maka mereka naik ke langit”. Nabi berkata :
“Kemudian Allah ‘azza wa jalla bertanya kepada para malaikat tersebut dan Allah
lebih tahu tentang apa yang mereka lakukan
: “Dari mana kamu sekalian ?”. Mereka menjawab : “Kami datang dari
hamba-hamba-Mu di bumi, mereka sedang mensucikan-Mu, bertakbir kepada-Mu,
memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu”. Allah bertanya : “Apa yang mereka minta ?”.
Para malaikat menjawab : “Mereka memohon surga-Mu”. Allah bertanya : “Apakah
mereka pernah melihat surga-Ku ?”. Para malaikat menjawab : “Tidak wahai
Rabbku”. Kata Allah : “Betapa seandainya mereka pernah melihat surga-Ku”. Para
malaikat berkata : “Mereka juga berlindung kepada-Mu”. Allah bertanya : “Dari
apa mereka berlindung kepada-Ku?”. Para malaikat menjawab : “Dari neraka-Mu
wahai Rabbku”. Allah bertanya : “Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?”. Para
malaikat menjawab : “Tidak”. Kata Allah : “Betapa seandainya mereka pernah
melihat neraka-Ku…” [HR. Al-Bukhari no. 6408 dan Muslim no. 2689].
2. Hadits Abu Hurairah
radliyallaahu ‘anhu :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي
نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ
هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي
أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Dari Abu Hurairah
radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi
wa sallam : Allah ’azza wa jalla berfirman : “Aku terserah pada sangkaan
hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku. Jika dia
mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.
Jika dia mengingat-Ku di tengah orang banyak, maka Aku juga mengingatnya di
tengah orang banyak yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat sejengkal
kepada-Ku, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta,
maka Aku akan mendekat kepada-Nya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dengan
berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari” [HR. Al-Bukhari no. 7405 dan
Muslim no. 2675].
3. Hadits Mu’awiyyah
radliyallaahu ‘anhu :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ
قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا
وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ
تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ
قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ
وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ
مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ
وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي
بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ.
Dari Abu Sa’id
Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Mu’awiyyah radliyallaahu ‘anhu
pernah melewati suatu halaqah di masjid. Lalu ia bertanya : “Majelis apakah ini
?”. Mereka menjawab : “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala”.
Mu’awiyyah bertanya lagi : “Demi Allah, benarkah kalian duduk hanya untuk itu
?”. Mereka menjawab : “Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu”. Kata Mu’awiyyah
selanjutnya : “Sungguh aku tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai
kalian, sebab tidak ada orang yang menerima hadits dari Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam lebih sedikit daripada aku. Sesungguhnya Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati satu halaqah para shahabatnya,
lalu beliau bertanya : “Majelis apakah ini ?”. Mereka menjawab : “Kami duduk
untuk berdzikir kepada Allah. Kami memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan
atas anugerah-Nya kepada kami”. Beliau bertanya lagi :“Demi Allah, apakah
kalian duduk untuk itu ?”. Mereka menjawab : “Demi Allah, kami duduk hanya
untuk itu”. Beliau pun kemudian bersabda : “Sungguh, aku tidaklah menyuruh
kalian bersumpah karena mencurigai kalian, tetapi karena aku didatangi Jibril
‘alaihis-salaam yang memberitahukan bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan
kalian di depan para malaikat” [HR. Muslim no. 2701].
Mereka yang
melaksanakan dzikir secara berjamaah mengacu pada ketiga hadist diatas. Karena
masing masing mempunyai dalil hadist yang berbeda sudut pandangnya, sebaiknya
kita tidak perlu saling menyalahkan dan menganggap yang lainnya sebagai amalan
bid’ah .
Di tengah masyarakat
pada umum kondisi ini cenderung menjadi
pokok pangkal perpecahan dan saling memojokan. Sebaiknya umat Islam bisa
menghargai perbedaan pendapat yang terjadi, karena dari dalil hadistnyapun
sudah terjadi perbedaan. Disamping dalil hadist sebaiknya kita juga mengacu
pada dalil Al Qur’an.
PENJELSAN AL QUR'AN
TENTANG DZIKIR
Al Qur’an menjelaskan
bahwa berdzikir itu bisa dilakukan seorang diri, secara berjamaah, didalam
hati, dijaharkan denga lisan , kapan
saja ketika berdiri, duduk dan berbaring.
DZIKIR SEORANG DIRI
DENGAN SIIR (RAHASIA)
Dzikir ini dilaksanakan
dengan mengacu pada firman Allah pada surat Al A’Raaf ayat 205:
"Dan sebutlah
(nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan
tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai".
DZIKIR DENGAN
BERJAMA'AH
Dalam Al Qur’an
dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi semua berdzikir dan
bertasbih pada Allah namun kita manusia tidak mengerti cara tasbih dan
dzikirnya.
"Langit yang
tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada
suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak
mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun". (Al Isra': 44)
"Sesungguhnya
malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah
Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka
bersujud" (Al A’raaf : 206)
Para malaikat, bintang,
planet , gunung, awan, angin, lautan, pohon-pohon, binatang yang melata di
bumi, burung-burung semua berdzikir dan
bertasbih pada Allah bersama-sama.
Allah juga
memerintahkan orang yang beriman untuk berdzikir dan bertasbih padanya secara
beramai ramai seperti disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 41-43 ;
41. Hai orang-orang
yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
42. Dan bertasbihlah
kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
43. Dialah yang memberi
rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia
Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Ini adalah perintah
kolektif yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, bukan perintah untuk
individu dan perorangan. Allah juga mengajarkan kita doa-doa yang diucapkan
secara kolektif (berjamaah) seperti pada surat Ali Imran ayat 191-194, dimana
awal doa dimulai dengan wahai Tuhan Kami (jamak) …bukan dengan wahai Tuhanku
(tunggal).
191. (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha
Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
192. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh
telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.
193. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):
“Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami,
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami
kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak
berbakti.
194. Ya Tuhan kami,
berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali Imran 191-194)
DZIKIR DENGAN LISAN
Allah memerintahkan
orang yang beriman untuk menyebut-nyebut nama Allah dengan sebanyak- banyaknya
dengan suara yang lembut, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan.
Firman Allah :
Katakanlah : “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan
janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al Isro' :
110)
ORANG YANG TIDAK
BERDZIKI ADALAH ORANG YANG LALAI
Al Qur’an menjelaskan
bahwa dzikir itu boleh dilakukan seorang diri, beramai ramai (berjamaah),
dengan lisan atau rahasia didalam hati masing-masing, dimana saja ketika duduk
, berdiri dan berbaring , diwaktu pagi, petang atau malam hari. Lakukanlah
sebisa yang dapat dilakukan. Jangan saling menyalahkan dan menuduh yang lainnya
sesat dan melakukan bid’ah. Yang tidak
benar adalah orang yang tidak mau mengerjakan dzikir mengingat Allah, mereka
itulah orang yang lalai.
Allah mengingatkan hal
ini dalam surat Al Hasyr ayat 19
"Dan janganlah
kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka
lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al Hasyr 19)
Dan didalam akhir surat
Al A’raaf ayat 205 dikatakan janganlah kalian termasuk orang yang lalai (dari
mengingat Allah)
Mari kita hidupkan hati
dan fikiran kita dengan berdzikir mengingat Allah, baik seorang diri maupun
beramai-ramai, dengan jahar atau siir. Jangan sibuk menyalahkan orang lain
hingga tidak sempat berdzikir pada Allah hingga masuk kedalam golongan orang
yang lalai dan fasik.
No comments:
Post a Comment