عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمَا كَانَ فِي دُعَاءِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ
نُوْرًا وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا
وَفِي سَمْعِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ
نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا
وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا
وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُوْرًا
وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا
( صحيح البخاري )
” Dari Ibn Abbas ra berkata : Diantara Doa
Nabi saw : “Wahai Allah jadikanlah pada hatiku cahaya, dan pada penglihatanku
cahaya, dan pada pendengaranku cahaya, dan dikananku cahaya, dan dikiriku
cahaya, dan diatasku cahaya, dan dibawahku cahaya, dan didepanku cahaya, dan
dibelakangku cahaya, dan jadikan untukku cahaya”. (Shohih Bukhari no. 6316)
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian 'alam, Maha penguasa yang
abadi, Maha menguasai setiap ruh dan jiwa, Maha menundukkan segala kejadian,
Maha menciptakan kehidupan dan kematian, Maha menyeru hamba-hamba-Nya kepada
keluhuran dan mereka selalu di dalam keluhuran dunia dan akhirah, dalam
kemuliaan dunia dan akhirah, dalam kebahagiaan dunia dan akhirah, dalam
keindahan dunia dan akhirah, demikian utusan sang pembawa rahmat Allah
subhanahu wata’ala di dunia dan akhirah yang diutus oleh sang pemilik dunia dan
akhirah, pemimpin seluruh makhluk di dunia dan akhirah dialah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, utusan dari sang pencipta dunia dan akhirah untuk
membawa kemuliaan dan keluhuran pada setiap hamba, dan beruntunglah mereka yang
menjawab seruan Ilahi, Allah subhanahu wata’ala yang maha baik, yang maha
indah, yang maha suci, yang maha lebih mulia dan lebih mencintai kita dari
semua makhluk yang mencintai kita.
Dosa-dosa yang merupakan pangkal musibah terhapus dengan kemaafan dan
pengampunan Allah subhanahu wata’ala dan amal-amal pahala kita, Allah subhanahu
wata’ala telah menurunkan firman untuk seorang pemuda yang pendosa, sebagaimana
riwayat dalam Shahih Bukhari bahwa pemuda ini datang kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah
berbuat dosa yang begitu banyak dan aku ingin mendapatkan hukuman”, maka
Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam tidak menjawab, namun Allah
subhanahu wata’ala menjawab dengan firman-Nya:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
( هود: 114 )
“Sesungguhnya perbuatan yang baik (pahala) itu
menghapuskan) perbuatan-perbuatan yang buruk (dosa). Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat (selalu berdzikir)”. ( QS. Hud: 114 )
Dzikir menghapus dosa-dosa dan musibah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
( النور: 35 )
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan
bumi”. ( QS. An Nuur )
Allah meneranginya bumi dengan cahaya dzahir dan cahaya bathin. Dan
Allah memberikan cahaya-Nya kepada yang dikehendakinya, sebagaimana firman-Nya:
يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ
يَشَاءُ
( النور: 35 )
” Allah membimbing kepada cahaya-Nya ( untuk )
siapa yang Dia kehendaki”. (QS. An Nuur: 35 )
Allah memberikan petunjuk dengan cahaya-Nya kepada siapa-siapa yang
dikehendakinya. Dan makna cahaya dalam firman Allah di surah An Nuur:
نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ
( النور:
35 )
” Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) “. (
QS. An Nuur: 35 )
adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena “Allah
memberikan hidayah ( petunjuk ) dengan cahaya-Nya”, bukan dengan cahaya
matahari hidayah datang, tetapi dengan cahaya tuntunan sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh sebab itulah ketika seseorang mencintai dan mengikuti tuntunan
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tersingkaplah seluruh
tabir cahaya yang menjadi penghalang antara makhluk dan sang khalik ( pencipta
), sehingga manusia bisa memandang keindahan Allah, karena mereka mengikuti
cahaya ciptaan Allah yang termulia, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam. Tidak satupun makhluk yang bisa sampai kepada cinta Allah dan
memandang keindahan Allah kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad,
Beliaulah cahaya Allah di dunia dan akhirah.
Tentang doa sang nabi yang meminta cahaya, padahal sang nabi adalah
cahaya Allah yang termulia, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:
اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ
نُوْرًا
” Ya Allah jadikanlah di hatiku cahaya “
Kita juga berdoa semoga hati kita diterangi cahaya Allah subhanahu
wata’ala. Betapa indahnya jika hati diterangi oleh cahaya Allah?, hati itu akan
tenang dan sejuk, hati itu akan terus rindu kepada Allah, yang dengan itu ia
juga dirindukan Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana apa yang dijelaskan oleh
Syaikh Abu Al Hasan Asy Syadzili yang dinukil oleh Hujjatul Islam Al Imam
Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi, dan juga oleh Al Imam Ibn ‘Athaillah, beliau
mengatakan : “Jika cahaya tauhid ” Laa ilaaha illallah ”
yang ada di hati seorang muslim pendosa disingkap dan diperlihatkan kepada
alam, niscaya langit dan bumi ini akan runtuh dari dahsyatnya cahaya Allah
subhanahu wata’ala yang ada di hati seorang muslim dari ummat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam”, namun cahaya itu tertutup dengan tabir yang
dikehendaki Allah sehingga tidak terlihat, karena orang yang tidak menyembah
selain Allah maka cahaya Allah ada di dalam hatinya, walaupun terpendam dengan
pendaman dosa ia tetap akan sampai kepada surga yang kekal.
Oleh sebab itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya
kepada Jibril As, yang dijelaskan di dalam tafsir Al Imam Qurthubi, beliau
bertanya: “wahai Jibril, bagaimana pahala orang yang bersujud dan mengucapkan ”
subhana rabbii al a’laa wabihamdih ” satu kali?”, maka Jibril As berkata:
“pahalanya lebih berat dari sebuah gunung, lebih berat dari al kursi, lebih
berat dari ‘arsy”, kemudian Allah berfirman: “sungguh telah benar hamba-Ku, Aku
mengungguli segala sesuatu”. Nama Allah jika disebut maka pahalanya jauh lebih
berat dari ‘arsy, kursi dan seluruh alam semesta. Demikian keadaan hamba yang
bersujud. Jika Allah singkapkan cahaya tauhid yang ada dalam diri seorang
muslim, cahaya persaksian dan pengakuan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah dan Muhammad utusan Allah yang ada di hati seorang muslim walaupun ia
pendosa, niscaya langit dan bumi akan runtuh tidak mampu menampung dahsyatnya
cahaya kewibawaan Allah, keagungan dan kewibawaan Allah yang ada di hati
seorang muslim. Maka Abu Al Hasan Asy Syadzili berkata: “jika hal seperti ini
untuk orang-orang yang berdosa kepada Allah, maka bagaimana dengan orang yang
shalih dan beriman serta banyak beribadah kepada Allah jika cahayanya
diperlihatkan kepada alam semesta”. Semoga Allah menerangi sanubari kita dengan
cahaya, cahaya kemudahan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya
keberkahan, cahaya kemuliaan, cahaya kesucian, cahaya seluruh keindahan serta
cahaya Allah yang memenuhi seluruh kenikmatan dan menjauhkan dari segala kesulitan.
Dan Rasulullah berdoa:
وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا وَفِيْ سَمْعِيْ
نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا
وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا وَفَوْقِيْ نُوْرًا
وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا
وَخَلْفِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا
“(Ya Allah jadikanlah ) cahaya di
penglihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di
sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari depanku,
cahaya dari belakangku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya”
Hal ini menunjukkan indahnya doa sayyidina Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh sayyidina Abdullah bin Abbas Ra ketika
ia menginap di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, disaat waktu
shalat tahajjud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan ia pun ikut
bangun dan berwudhu kemudian shalat, selesai shalat witir Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam berbaring lalu bangun dan membaca doa ini, meminta
cahaya kepada Allah untuk panca inderanya, dan dalam riwayat yang lain
Rasulullah juga berdoa :
وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا وَفِيْ دَمِيْ
نُوْرًا وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا
وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا
“Ya Allah jadikanlah cahaya dalam dagingku,
cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku”.
Beliau meminta cahaya kepada sang pemilik cahaya, padahal beliau telah
terang benderang dengan cahaya Ilahi, dan barang siapa yang membaca doa ini
tentu hatinya akan bercahaya, jiwanya akan bercahaya, siang dan malamnya
bercahaya dengan kemudahan, dengan ketenangan dan keindahan Allah, jika
seseorang telah bercahaya dengan keindahan Allah maka apalah artinya keindahan
dunia akhirah, semuanya akan tunduk dan berlimpah kepadanya, karena ia telah
bercahaya dengan cahaya keindahan Ilahi. Ketahuilah bahwa Allah telah
menyiapkan dan menganugerahkan cahaya kemuliaan doa sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba yang paling mulia
dari segenap hamba, beliau adalah panutan dari semua hamba-hamba Allah, dan
beliau adalah orang yang paling berakhlak dari semua orang. Diriwayatkan di
dalam Shahih Al Bukhari :
مَاعَابَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ كَانَ إِذَا
اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ
كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidak sekali-kali Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mencela makanan. Jika beliau menyukainya, maka beliau makan,
jika beliau tidak menyukainya maka beliau tinggalkan”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berakhlak dalam segala
sesuatu, bahkan kepada makanan. Beliau tidak pernah mencaci rizkinya, tidak
pernah mengejek makanan, jika beliau suka maka beliau makan, jika tidak suka
maka tidak dimakan. Demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam adalah orang yang paling
bercahaya dari segenap hamba yang bercahaya beliau budi pekertinya sangat
indah. Dan sebesar-besarnya ujian dan cobaan kita tidak ada diantara kita yang
sampai seberat cobaan sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi
janganlah sekali-kali kita merasa bahwa sungguh berat cobaan yang kita hadapi.
Ingatlah orang yang paling mulia ini selama 3 hari 3 malam menahan perutnya
dari lapar, padahal jika mau, beliau akan meminta makanan kepada Allah dan
pastilah Allah kabulkan permintaannya, namun karena indahnya budi pekerti
beliau, makhluk yang paling dicintai Allah itu terus bertahan untuk tidak
meminta rizki untuk dirinya tetapi terus meminta untuk ummatnya. Di saat itu
beliau sudah hijrah dan Baitul Maal pun telah penuh tetapi Rasulullah masih
mengikat perutnya dengan batu karena selama tiga hari tidak makan. Setelah
beliau pulang ke rumah istrinya dan bertanya kepada istrinya ternyata tidak ada
sesuatu kecuali air, kemudian pulang ke rumah istrinya yang lain ternyata yang
ada pun hanya air. Barangkali tidak ada satu pun diantara kita yang sampai
menghadapai keadaan yang seperti itu, yang dirumahnya tidak ada apapun dari
harta, makanan dan minuman kecuali air, sungguh beliaulah orang yang paling
sabar dan tabah dan supaya kita tidak putus asa jika terkena musibah, ketika
kita terkena musibah ingatlah ada yang lebih dahulu merasakan musibah yang
paling berat, yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan
musibah yang berat di saat sakaratul maut pun beliau telah mendahuluinya,
seraya berdoa kepada Allah :
اَللّهُمَّ شَدِّدْ عَلَيَّ َموْتِيْ
وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي
” Wahai Allah, pedihkan sakaratul mautku dan
ringankanlah untuk ummatku”
Di saat itu berubah wajah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga
Jibril memalingkan wajah, maka Rasulullah bertanya : “mengapa engkau
memalingkan wajah wahai Jibril ?”, maka Jibril berkata: “aku tidak tahan
melihat engkau menahan sakit wahai Rasulullah”, sungguh tidak pantas seseorang
seperti nabi Muhammad menahan sakit namun karena cinta beliau kepada ummatnya,
beliau ingin rasa sakit sakaratul maut ummatnya diringankan dan dipedihkan
untuk beliau, maka Allah kabulkan permohonan beliau, sehingga beliau berkata:
لَا إِلَهَ إِلَّا الله
إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Laa ilaha illallah, sungguh kematian itu
sangat pedih”
Demikian hal yang diderita pada akhir nafas sang nabi untuk
meringankan sakaratul maut ummatnya, adakah kekasih yang lebih indah dari
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!.
Inilah nabi yang luhur dan beliau adalah imam ahli sujud yang terlahir
dalam keadaan bersujud sebagaimana diriwayatkan dalam sirah Ibn Hisyam dan
ketika sayyidina Tsauban Ra ditanya, diriwayatkan dalam Shahih Muslim: “Wahai
Tsauban amal apakah yang paling dicintai Allah?”, tetapi beliau hanya diam dan
untuk yang ketiga kalinya beliau berkata: “perbanyaklah bersujud, karena aku
telah menanyakan pertanyaanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan Rasul berkata: ” perbanyaklah bersujud karena jika engkau
bersujud, Allah akan mengangkat derajatmu semakin dekat kepada-Nya dan
berjatuhan dosa-dosamu”, demikian kemuliaan sujud. Dan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam :
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ اْلعَبْدُ
مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan hamba yang paling dekat kepada
Tuhanya adalah tatkala ia bersujud”
Diriwayatkan oleh sayyidina Rabi’ah bin Ka’ab Ra, ia berkhidmah kepada
Rasulullah karena cintanya kepada Rasulullah, dan setelah berhari-hari ia
berkhidmah maka Rasul mengizinkannya pulang, kemudian Rasulullah kepada Rabi’ah
bin Ka’ab: “wahai Rabi’ah, mintalah apa yang kau inginkan”, maka Rabi’ah
berkata: “menemanimu di sorga, wahai Rasulullah”, demikian riwayat Shahih
Muslim, maka berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “adakah yang
lainnya ?”, Rabi’ah menjawab: ” tidak ada wahai Rasulullah, aku hanya ingin
menemanimu di surga, karena aku telah menemanimu di dunia maka aku ingin juga
bisa bersamamu di akhirah”, maka Rasulullah berkata: “bantulah aku untuk
hajatmu itu dengan perbanyaklah sujud, maka engkau akan bersamaku kelak di
akhirat”.
Sujud itu ada yang dzahir dan ada yang bathin, sujud yang dzahir
adalah sujudnya tubuh kita sebagaimana kita ketahui, namun sujud bathin adalah
ketika tubuh kita sujud, hati kita juga sujud kepada Allah dan setelah itu hati
akan terus sujud walaupun tubuh kita beraktifitas, hati kita akan tetap sujud
dan merendahkan diri kepada Allah walaupun siang dan malam kita dalam aktifitas
lain sampai kembali ke waktu sujud lagi, yaitu waktu shalat. Namun di luar
waktu-waktu shalat pun, kemuliaan sujud terus menerangi hati kita.
Ingatlah satu kali sujud pahalanya lebih berat daripada ‘arsy, al
kursi dan semua gunung di dunia. Semakin seorang hamba mengagungkan Allah, maka
Allah memberikan pahala yang lebih dari segala sesuatu, karena Allah lah yang
melebihi dan menciptakan segala sesuatu, alam semesta di dalam genggaman-Nya,
cahaya seluruh jagad raya ini adalah ciptaan-Nya, dan Allah menciptakan cahaya
terindahnya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah
memberikan hidayah dengan cahaya-Nya itu kepada yang dikehendaki-Nya . Al Imam
Qadhi iyadh berkata dalam kitabnya Asy Syifaa bahwa makna dari “Nuur ( cahaya
)” dalam surah Nuur adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
karena beliaulah cahaya Allah yang menuntun hamba-hamba kepada keluhuran dengan
kehendak Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ مَا تَعَرَّفَ مِنْهَا
ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا
اِخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang
berkelompok-kelompok, yang saling mengenal akan saling mendekat, dan yang
saling bertengkar akan saling menjauh.”
Maka kelompok ruh yang di dunia itulah kelompok ruh yang di akhirat
kelak, jika kita telah berkelompok disini maka ruh kita telah bersatu meskipun
tidak saling bersalaman satu sama lain, kelak di akhirah kita akan bersama
dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ya Rahman Ya Rahiim, kami
bermunajat memohon kehadirat-Mu kemuliaan, keluhuran dan segala kenikmatan,
limpahkan untuk kami cahaya kebahagiaan, limpahkan kepada kami cahaya
keluhuran, terangi kami dengan cahaya di depan kami, di belakang kami, diatas
dan dibawah kami, di kanan dan kiri kami dengan cahaya keindahan, dengan cahaya
kebahagiaan, dengan cahaya keluhuran, dengan cahaya kesucian, dengan cahaya
khusyu’, dengan cahaya sujud, dengan cahaya doa dan munajat, dengan cahaya
dzikir dan shalawat, dengan cahaya istighfar, dengan cahaya taubat, dengan
cahaya ibadah, dengan cahaya cinta kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu dan
jadikan kami semua makmur di dunia dan akhirah, limpahkan kekayaan kepada kami
di dunia dan akhirah...Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram…
يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن
يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…
لاَ إلهَ إلاَّ
الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا
وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ
إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
مِنَ اْلأمِنِيْنَ
No comments:
Post a Comment