Semua manusia akan menemui hari kebangkitan (al ba’ts) setelah kematiannya. Sehingga mengenal dan mengetahui kejadian hari kebangkitan ini, menjadi sangat penting. Karena merupakan salah satu bagian dari iman kepada hari akhir. Juga termasuk iman kepada perkara ghaib, yang menjadi salah satu keistimewaan orang-orang bertakwa. Bagaimanakah hari kebangkitan itu terjadi?
PENIUPAN ASH-SHUR (الصُّوْرُ )
Hari kebangkitan dimulai setelah peniupan ash-Shur (الصُّوْرُ). Yaitu sangkakala, yang Allah tugaskan kepada Malaikat Israfil untuk meniupnya ketika diperintahkan untuk itu. Dijelaskan dalam salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الصُّوْرُ قاَلَ قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيْهِ رواه أبو داود والترمذي وحسنه وابن حبان في صحيحه
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al ‘Ash Radhiyallahu anhuma , ia berkata : “Seorang ‘Arab datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seraya bertanya : “Apa (yang dimaksud) ash-Shur?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sangkakala yang ditiup.” [HR Abu Dawud, at Tirmidzi dan beliau menghasankan, serta Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya].
BERAPA KALI SANGKAKALA DITIUP
Al Qur`an mengabarkan tiga kali tiupan.
Pertama : Ialah tiupan al faz’u, sebagaimana disebutkan dalam surat an Naml/27 ayat 87 :
وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ
Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.
Kedua : Yaitu tiupan ash-sha’iq (kematian), dan ketiga tiupan qiyam (bangkit), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannnya masing-masing). [az Zumar/39 : 68].
Sebagian ulama berpendapat, tiga tiupan sangkakala tersebut menjadi dua. Yaitu, tiupan al faz’u sebagai awalnya (dimana manusia terkejut dan mati kecuali yang Allah kehendaki) dan diakhiri dengan tiupan ash-sha’iq, kemudian yang kedua adalah tiupan al qiyam (kebangkitan) dimana semua manusia bangkit dan bangun dari kubur mereka.
Di antara dalil yang digunakan ialah hadits ‘Abdullah bin ‘Amru yang panjang. Di dalamnya terdapat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا قَالَ وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ فَيَصْعَقُ وَيَصْعَقُ النَّاسُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللَّهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ نُعْمَانُ [الشَّاكُّ] فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ رواه مسلم
“Kemudian ditiup sangkakala, maka tidaklah seorang pun mendengarnya, kecuali menegangkan sisi lehernya dan mengangkat sisi lehernya,” beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Orang pertama yang mendengarnya adalah seorang yang sedang menembok (dengan tanah) kubangan air (untuk minum) ontanya. Lalu ia mati dan manusia pun mati. Kemudian Allah mengirim atau menurunkan hujan, sekan-akan seperti hujan rintik-rintik atau tetesan (perawi ragu), lalu tumbuhlah darinya tubuh manusia. Kemudian ditiupkan tiupan lainnya, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu”. [HR Muslim].
JARAK ANTARA TIUPAN ASH-SHA’IQ DENGAN AL QIYAM
Masa tenggang antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam, telah dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhyallahu anhu yang berbunyi :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُوْنَ قِيْلَ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ :أَبَيْتُ قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا قَالَ أَبَيْتُ قَالُوْا : أَرْبَعُوْنَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ ثُمَّ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ وَلَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ لاَ يُبْلَى إِلاَّ عَظْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ مِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya: “Empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab: “Aku tidak peduli,” lalu mereka bertanya: “Empat puluh bulan?” Beliau menjawab: “Aku tidak peduli,” mereka bertanya lagi: “Empat puluh tahun?” Dia menjawab,”Aku tidak peduli.” Kemudian turunlah hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Semua bagian manusia akan hancur, kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Darinya (tulang ekor) manusia diciptakan pada hari Kiamat. [HR al Bukhari dan Muslim].
Demikianlah jarak antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam adalah empat puluh, tanpa ada penunjukan hari, bulan ataukah tahun.
BAGIAN TUBUH MANUSIA YANG TIDAK DIMAKAN TANAH
Seluruh bagian tubuh manusia akan hancur dimakan tanah, kecuali yang Allah kehendaki lain. Di antaranya, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama adalah :
1. Jasad (tubuh) para Nabi
Seperti dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para nabi. [HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan ini lafazh Ibnu Majah].
2. Tubuh para syuhada (orang yang meninggal dalam jihad fi sabilillah)
Disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan Imam al Bukhari dalam Shahih-nya :
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا أُرَانِي إِلَّا مَقْتُولًا فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْرًا فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ وَدُفِنَ مَعَهُ آخَرُ فِي قَبْرٍ ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أَنْ أَتْرُكَهُ مَعَ الْآخَرِ فَاسْتَخْرَجْتُهُ َعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَإِذَا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ هُنَيَّةً غَيْرَ أُذُنِهِ
Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Ketika terjadi perang Uhud, bapakku memanggilku pada malam hari dan (dia) berkata: “Aku merasa akan terbunuh sebagai orang pertama yang terbunuh dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan sungguh, aku tidak meninggalkan setelahku yang aku cintai lebih darimu, kecuali diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sungguh aku masih memiliki hutang, maka tunaikanlah dan jagalah baik-baik saudari-saudarimu,” lalu pada pagi harinya beliau menjadi orang pertama yang terbunuh. Dan bersamanya dimakamkan seseorang dalam satu kuburan. Kemudian diriku (merasa) kurang senang membiarkan beliau bersama yang lain dalam satu kuburan, maka aku gali ulang (kuburannya) setelah enam bulan. Ternyata, keadaan beliau masih seperti saat aku kuburkan, kecuali telinganya. [HR al Bukhari].
3. Tulang ekor manusia
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah di atas, dan riwayat lain dalam Shahih Muslim disebutkan :
إِنَّ فِي الإِنْسَانِ عَظْمًا لاَ تَأْكُلُهُ الأَرْضُ أَبَدًا فِيْهِِ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوْا أَيُّ عَظْمٍ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجْبُ الذَّنَبِ
“Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Padanya manusia disusun (kembali) pada hari Kiamat”. Mereka bertanya,”Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulang ekor.”
4. Ruh
Berkata Imam As-Safarini. Dan sungguh ruh-ruh manusia tidak punah, walaupun ia makhluk Allah, maka fahamilah. [Syarah Al-Aqidah Al-Safariniyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Mani, hal. 212]
PROSESI KEBANGKITAN
Keluar Dari Kubur
Setelah ditiup sangkakala pada tiupan ash-sha’iq, maka manusia pun mati, lalu Allah membangkitkan mereka dari tulang-tulang ekor yang tumbuh disirami hujan, seperti tumbuhnya sayuran, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits di atas. Setelah sempurna susunan dan tubuh mereka, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala lagi, sehingga ruh-ruh kembali kepada jasadnya, dan manusia pun bangkit berdiri menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikianlah hari keluarnya mereka dari kuburnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ ﴿٤١﴾ يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ ﴿٤٢﴾ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ ﴿٤٣﴾ يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ
Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. [Qaaf/50:41-44].
Disinilah orang kafir berkata:”Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Sedangkan mukmin menyatakan : “Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya)”.
Digiring Ke Padang Mahsyar
Kemudian manusia digiring ke Padang Mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan penutup kaki maupun pakaian, dan dalam keadaan belum dikhitan, sebagaimana mereka dahulu diciptakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. [al Anbiya`/21:104].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan),” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah : [Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. [al Anbiya`/21 ayat 104)]. [HR al Bukhari].
Di dalam shahihain, terdapat hadits ‘Aisyah yang menggambarkan peristiwa ini. Yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Manusia digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”. Lalu ‘Aisyah berkata: Aku bertanya,”Laki-laki dan perempuan semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian”. [Muttafaqun ‘alaih].
Demikianlah, setiap orang sibuk dengan dirinya masing-masing, sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firmanNya :
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ﴿٣٣﴾ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka, pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. [‘Abasa/80 : 33-37].
Namun kemudian, mereka diberi pakaian juga. Dan seseorang yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ.
Orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim. [HR al Bukhari].
Sedangkan pakaian yang dikenakan manusia adalah pakaian yang dikenakan saat ia meninggal. Demikianlah yang difahami dari sahabat yang mulia, Abu Sa’id al Khudri, dalam hadits yang berbunyi:
أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ دَعَا بِثِيَابٍ جُدُدٍ فَلَبِسَهَا ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْمَيِّتُ يُبْعَثُ فِيْ ثِيَابِهِ الَّتِيْ يَمُوْتُ فِيْهَا رواه أبو داود وابن حبان في صحيحه
Ketika menjelang kematiannya, beliau meminta diambilkan pakaian baru, lalu dikenakannya, kemudian beliau berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Mayit akan dibangkitkan mengenakan pakaian yang dikenakan ketika mati”. [HR Abu Dawud dan Ibnu Hiban dalam Shahih-nya]
Demikian juga yang difahami oleh sahabat yang mulia, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu. Disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fat-hul Bari, bahwa Ibnu Abi ad Dunya meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu ‘Amru bin al Aswad, ia berkata :
دَفَنَّا أُمَّ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ, فَأَمَرَ بِهَا فَكُفِنَتْ بِثِيَابٍ جُدُدٍ وَ قَالَ: أَحْسِنُوْا أَكْفَانَ مَوْتَاكُمْ فَإِنَّهُمْ ُحْشَرُوْنَ فِيْهَا
Kami menguburkan jenazah ibu Mu’adz bin Jabal, lalu Mu’adz memintanya dan dikafani dengan pakaiannya yang baru, dan ia berkata: “Perbaguskanlah kafan jenazah kalian, karena sesungguhnya mereka dibangkitkan pada pakaian tersebut”.
Cara Menggiringnya
Manusia digiring ke Padang Mahsyar dengan berjalan kaki, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّكُمْ مُلَاقُو اللَّهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلًا رواه البخاري
Kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang, berjalan kaki dan masih berkulup (belum dikhitan). [HR al Bukhari].
Namun juga terdapat riwayat yang menjelaskan adanya sebagian manusia yang berkendaraan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالًا وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّونَ عَلَى وُجُوهِكُمْ رواه الترمذي وقال حديث حسن
Sesungguhnya kalian akan digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan dan berkendaraan, serta diseret di atas wajah-wajah kalian. [HR at Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits hasan”].
Orang-orang yang diseret dan berjalan dengan wajahnya adalah orang-orang kafir. dalam penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap firman Allah dalam surat Al Furqn ayat 34, dalam satu hadits dari Anas bin Malik beliau berkata:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يا رسول الله قال الله :( الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ) أَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَلَيْسَ الَّذِي مَشَّاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمَشِّيَهُ عَلَى وَجْهِهِ ؟ قَالَ قَتَادَةُ حِيْنَ بَلَغَهُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا رواه البخاري ومسلم
Bahwasanya seseorang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Allah berfirman, ‘Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka’ –al Furqan/25 ayat 34- apakah orang kafir digiring di atas wajahnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Bukankah Dzat yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya?” Qatadah berkata ketika hadits ini sampai kepadanya : “Benar, demi kemuliaan Allah”. [HR al Bukhari dan Muslim].
No comments:
Post a Comment