"...Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, dan dari azab kubur,
dan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah
masyihid-dajjal..."
Kematian merupakan
hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi seluruh orang yang hidup dan tidak
ada yang kuasa menolak maupun menahannya. Maut merupakan ketetapan Allâh Azza
wa Jalla . Ini adalah hakekat yang sudah diketahui. Maka sepantasnya kita
bersiap diri menghadapinya dengan iman sejati dan amal shalih yang murni.
ALAM KUBUR MENAKUTKAN
Hani’ Radhiyallahu anhu
, bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, “Kebiasaan Utsman
Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai
membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Disebutkan
tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan
sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah
persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang
selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila
seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat
darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak
melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR.
At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah]
Karena fase setelah
kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan
Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb,
segerakanlah kiamat agar aku kembali ke keluarga dan hartaku.” Sebaliknya,
orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa
Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang
akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.
GELAPNYA ALAM KUBUR
Hal ini ditunjukkan
oleh hadits shahih :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ
امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا
مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا
– أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا
ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
Dari sahabat Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda-
biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah
meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak
memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan
urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya
kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita
itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi
para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya bagi
mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]
HIMPITAN ALAM KUBUR
Setelah mayit
diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya.
Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits
menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu anhu , padahal
kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak
tujuh puluh ribu menyaksikannya.
Dalam Sunan an-Nasâ’i
diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ
لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا
مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
Inilah yang membuat
‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu
malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian
dibebaskan.”
Dalam Musnad Ahmad
diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً
وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
Sesungguhnya kubur
memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu) Saad bin
Muâdz telah selamat. [HR. Ahmad]
Himpitan kubur in akan
menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ
ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ
Seandainya ada
seseorang selamat dari himpitan kubur, maka bocah ini pasti selamat [H.R.
ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih]
FITNAH (UJIAN) KUBUR
Jika seorang hamba
telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan
pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur.
Dalam hadits shahih
riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu
anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ
لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ
؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي
بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ
بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ
مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ
, قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ
بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ
فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ
, فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ:
أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى
أَهْلِي وَمَالِي
Kemudian dua malaikat
mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?”
Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya,
“Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu
bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab,
“Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu
bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku
mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru
dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari
surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya
ke surga.
Maka datanglah
kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh
mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya,
berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa
yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”.
Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah
wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”.
Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan
kembali kepada istriku dan hartaku”.
Pertanyaan ini juga
dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ
فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ
لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي
مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ
بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ
قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ
قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا
يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ
بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
Kemudian ruhnya
dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan
mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab:
“Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu
bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu
bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab:
“Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari
langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari
neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan
asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya
berhimpitan.
Dan datanglah seorang
laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu
mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah
dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya,
“Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab,
“Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau
tegakkan hari kiamat”.
Dari hadits yang telah
dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk
umum, baik orang Mukmin maupun kafir.
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
Banyak sekali hadits
yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur. Hal ini telah disepakati
oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh
tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak
mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib
meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana
caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak
dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil
bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang sulit difahami oleh akal.
Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang
diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan
dengan yang ada di dunia.”
Kalangan atheis dan
orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab
kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat
sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak
mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa
penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat
mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa
rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat
menangkapnya.
Adapun orang-orang yang
beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.
Di dalam al-Qur’ân
terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Antara lain
adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang Fir’aun dan kaumnya :
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ
سُوءُ الْعَذَابِ ﴿٤٥﴾ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ
تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Fir’aun beserta kaumnya
dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi
dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat),
“Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”.
[al-Mukmin/40: 45-46]
Imam Ibnu Katsir
rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh
adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka
Jahim. “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, sesungguhnya
ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari
kiamat. Jika hari kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di
neraka. Oleh karena inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “dan
pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun
dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat
dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam
pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur,
yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’.
[Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]
Imam al-Qurthubi
mengatakan, “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa penampakan neraka itu terjadi di
barzakh (kubur), dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”.
SEBAB-SEBAB SIKSA KUBUR
Sebab-sebab yang
menjadikan seseorang mendapatkan siksa kubur ada dua bagian, mujmal (global)
dan mufash-shal (rinci). Sebabnya secara mujmal (global), yaitu kebodohan
terhadap Allâh Azza wa Jalla , menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang
larangan-Nya. Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci), adalah
perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.
Di sini akan kami
sebutkan di antara sebab mufash-shal sehingga kita bisa menjauhinya:
- Namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain untuk merusak hubungan mereka (adu domba).
- Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
- Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
- Dusta.
- Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
- Zina
- Riba
- Mayit yang ditangisi keluarganya, jika mayit tersebut tidak melarang sebelumnya.
HAL-HAL YANG
MENYELAMATKAN DARI SIKSA KUBUR
Perkara yang akan
menyelamatkan seseorang dari adzab kubur adalah orang yang mempersiapkan diri
sebelum menghadapi kematian yang datang tiba-tiba. Di antara persiapan
menghadapi maut adalah segera bertaubat, menunaikan kewajiban syariat,
memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah, berjihad, berbuat baik pada orang
tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya. Dengan amalan
tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan
kesusahan.
Abu Hatim dalam
shahihnya meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Sesungguhnya
orang mati dapat mendengar suara langkah kaki orang-orang yang pergi
meninggalkannya. Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya,
puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik
seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di
dekat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata,
‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan,
maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi
dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti
berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di
arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun
duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia
ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu
tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin shalat.’ Mereka menyahut,
‘Sungguh kamu akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa
pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu tentang lelaki ini yang
dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi
bahwa ia adalah utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu
dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan
dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan,
insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya,
‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia
bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan,
‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika
kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya
diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan
seperti semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu
burung yang bertengger di pohon surga.”
ORANG-ORANG YANG
TERPELIHARA DARI UJIAN DAN SIKSA KUBUR
Sebagian kaum Mukmin
yang melakukan amal-amal besar atau tertimpa musibah besar akan terjaga dari
fitnah atau ujian dan azab kubur, Diantara mereka :
Pertama : Orang yang
mati syahid.
Diriwayatkan bahwa
seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ya
Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?”
Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.”
[H.R.an-Nasa'i]
Kedua : Seseorang yang
gugur ketika bertugas jaga di jalan Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid
meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau
bersabda, “Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang meninggal
ketika bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh sampai hari kiamat
dan ia akan aman dari fitnah kubur.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]
Ketiga : Seseorang yang
meninggal hari Jum’at
Dari Abdullah ibn Amru,
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Muslim yang
meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur.” [HR.
Ahmad dan Tirmidzi]
Keempat : Seseorang
yang meninggal karena sakit perut
Abdullah bin Yasar
Radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan
Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang
meninggal karena sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah
satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ‘Orang yang meninggal karena sakit perut tidak akan diadzab
di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Engkau benar.’ [HR. an-Nasa’i dan
Tirmidzi]
No comments:
Post a Comment