مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى
الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ
"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar
kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah)
di sisi alam yang fana."
Penjelasan (Syarh)
Ar-raja adalah istilah
khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta'ala.
Pasal Al-Hikam yang pertama ini bukan ditujukan ketika seseorang berbuat salah,
gagal atau melakukan dosa. Karena ar-rajalebih menyifati orang-orang yang
mengharapkan kedekatan dengan Allah, untuk taqarrub.
Kalimat "wujuudi
zalal", artinya segala wujud yang akan hancur, alam fana. Menunjukkan
seseorang yang hidup di dunia dan masih terikat oleh alam hawa nafsu dan alam
syahwat. Itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah.
Seorang mukmin yang kuat
tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang
fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala
Jika kita berharap akan
rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita,
baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah
hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana
kualitas raja (harap) kita kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau
wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah
memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim
Orang yang melakukan amal
ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Allah, meminta kepada Allah supaya
hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung
pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh,.
sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau
meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya
kepada Allah, sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rahmat Allah, maka
amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.
Kalimat: Laa ilaaha
illallah. (Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung,
berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada
yang memberi dan menolak melainkan Allah).
Pada dasarnya syari’at
menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita
menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia
dan rahmat Allah subhanahu wata’ala.
Apabila kita dilarang
menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan
manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri,
seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan
Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.
( Al Hikam Ibnu 'Athaillah)
No comments:
Post a Comment