Sesungguhnya detik-detik kematian merupakan waktu penentu umur
seseorang, walaupun dia telah melewati umur panjang. Umur manusia di zaman ini
umumnya tidak akan melewati 100 tahun. Maka masa umur manusia dalam khidupan
dunia yang sementara ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan masa
ribuan tahun yang akan dialami dalam kubur. Tidak ada bandingannya dengan waktu
50 ribu tahun di mahsyar. Dan tidak ada bandingannya dengan masa yang kekal
abadi dalam surga yang penuh kenikmatan, atau dalam neraka jahannam yang penuh
dengan siksaan.
Oleh karena itu seandainya ada seseorang yang bernasib sangat buruk di
dunia, semenjak lahir sampai wafatnya, namun dia beriman kepada Allâh Yang Maha
Esa, maka dia akan lupa terhadap kesusahannya di dunia ketika merasakan sedikit
nikmat di surga.
Atau sebaliknya, seandainya ada seseorang yang bernasib sangat baik di
dunia, semenjak lahir sampai wafatnya, namun dia kafir kepada Allâh Yang Maha
Esa, maka dia akan lupa terhadap kenikmatan dunianya ketika merasakan sedikit
siksa dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ
: يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ
أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ
فِى النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا
ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ
خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ
بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ
لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى
بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِى الدُّنْيَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ
صَبْغَةً فِى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ
لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ
هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ
مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ
فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا
رَبِّ مَا مَرَّ بِى
بُؤُسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ
شِدَّةً قَطُّ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat akan didatangkan
seseorang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan dunia yang termasuk
penghuni neraka, lalu dia dicelupkan sekali ke neraka, lalu setelah itu dia
ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kau pernah melihat kebaikan meskipun sedikit
? Apa kau pernah merasakan kenikmatan meskipun sedikit ? ‘ Dia menjawab:
‘Tidak, demi Allâh, wahai Rabb.’
Kemudian akan didatangkan orang paling sengsara di dunia yang termasuk
penghuni surga, kemudian dia ditempatkan dalam surga sebentar, setelah itu dia
ditanya, ‘Hai anak Adam, apa kau pernah melihat kesengsaraan meski sedikit ?
Apa kau pernah merasa kesusahan meski sedikit ? ‘ Dia menjawab, ‘Tidak, demi
Allâh, wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak
pernah melihat satu kesusahan pun’.” [HR. Muslim]
Dalam masa kehidupan manusia yang pendek di dunia ini akan ditentukan
tempat kembali manusia di akhirat nanti. Nasib manusia di akhirat tidak
ditentukan dengan umur dunia, semenjak diciptakannya sampai kiamat terjadi,
namun ditentukan dalam beberapa tahun saja dari umur dunia. Yaitu dalam umur
setiap manusia, bahkan bisa jadi ditentukan dalam beberapa hari, atau beberapa
jam, atau beberapa menit saja.
Yaitu ketika manusia itu bertaubat dalam masa hidupnya, dia menyesali
perbuatannya, dia memohon ampun kepada Rabbnya, dia beriman dengan ikhlas, dia
beramal dengan amal shalih, dia tinggalkan syirik, bid’ah dan maksiat, kemudian
meraih ridho Rabbnya di saat detik-detik kematiannya, maka itu akan
menghantarkannya menuju kemenangan yang sebenarnya.
Aduhai, alangkah agungnya kemenangan hakiki yang bisa digapai oleh
setiap insan.
Aduhai, alangkah agungnya masa depan dalam kebahagian abadi, yang bisa
diraih oleh manusia dalam beberapa menit kehidupannya dengan idzin Allâh.
Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bercerita :
أَنَّ عَمْرَو بْنَ أُقَيْشٍ
كَانَ لَهُ رِبًا فِى
الْجَاهِلِيَّةِ فَكَرِهَ أَنْ يُسْلِمَ حَتَّى
يَأْخُذَهُ فَجَاءَ يَوْمَ أُحُدٍ.
فَقَالَ : أَيْنَ بَنُو عَمِّى
قَالُوا : بِأُحُدٍ. قَالَ : أَيْنَ فُلاَنٌ
قَالُوا : بِأُحُدٍ. قَالَ : أَيْنَ فُلاَنٌ
قَالُوا : بِأُحُدٍ. فَلَبِسَ لأْمَتَهُ وَرَكِبَ فَرَسَهُ ثُمَّ تَوَجَّهَ قِبَلَهُمْ
فَلَمَّا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ قَالُوا
: إِلَيْكَ عَنَّا يَا عَمْرُو.
قَالَ : إِنِّى قَدْ آمَنْتُ.
فَقَاتَلَ حَتَّى جُرِحَ فَحُمِلَ
إِلَى أَهْلِهِ جَرِيحًا فَجَاءَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
فَقَالَ لأُخْتِهِ : سَلِيهِ حَمِيَّةً لِقَوْمِكَ
أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ
غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ : بَلْ
غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ فَمَاتَ.
فَدَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَا صَلَّى لِلَّهِ
صَلاَةً
Bahwa ‘Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta riba pada masa jahiliyah
dan ia tidak ingin masuk Islam hingga ia mengambil harta tersebut. Kemudian
datang waktu perang Uhud, kemudian ia bertanya, “Dimanakah anak-anak pamanku ?”
Orang-orang berkata, ‘Di Uhud.’ Ia berkata, “Dimanakah Fulan ?’ Mereka berkata,
‘Di Uhud.’ Ia berkata, “Dimanakah Fulan ?” Mereka berkata, ‘Di Uhud.’ Kemudian
ia memakai baju besinya dan menaiki kudanya kemudian ia menuju ke arah mereka.
Kemudian tatkala orang-orang Muslim melihatnya mereka berkata; “Menjauhlah
engkau dari kami wahai ‘Amr!”. Ia berkata, ‘Aku telah beriman. Kemudian ia
bertempur hingga terluka, kemudian ia dibawa kepada keluarganya dalam keadaan
terluka. Lalu Sa’d bin Mu’adz datang kepadanya dan berkata kepada saudarinya;
tanyakan kepadanya, apakah (dia ikut berperang-red) karena fanatik terhadap
kaumnya atau marah karena mereka atau marah karena Allâh ?’ Ia berkata, ‘Marah
karena Allâh dan rasul-Nya.’ Kemudian ia meninggal dan masuk surga sementera ia
belum pernah melakukan satu shalatpun untuk Allâh.[HR. Abu Dawud]
Dengan penjelasan ini maka jelas bagi kita semua bahwa detik-detik
kematian adalah waktu yang paling berbahaya dan paling penting bagi manusia
dalam umurnya. Sebagian Ulama menyatakan bahwa sisa umur seorang Mukmin, tidak
ternilai harganya’. Maka selayaknya manusia selalu memohon kepada Allâh Azza wa
Jalla agar tetap di atas jalan yang lurus dan dianugerahkan husnul khatimah.
Ini adalah peringatan dan peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang
beriman. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berifrman :
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ﴿١٠﴾وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى ﴿١١﴾ الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ ﴿١٢﴾ ثُمَّ
لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا
يَحْيَىٰ
No comments:
Post a Comment